55tv.co.id – Gelombang pemberantasan tambang timah ilegal yang digencarkan pemerintah berpotensi menjadi angin segar bagi PT Timah Tbk (TINS). Selama ini, aktivitas penambangan tanpa izin telah menjadi duri dalam daging bagi produsen resmi, mengganggu rantai pasok dan menekan produksi legal. Kini, dengan penertiban yang masif, TINS diprediksi bakal merasakan dampak positif signifikan.

Related Post
Pemerintah Indonesia menargetkan penutupan hingga seribu lokasi penambangan timah ilegal di wilayah Bangka Belitung. Presiden Prabowo Subianto bahkan sempat menyoroti bahwa sektor gelap ini, yang beroperasi di luar sistem resmi, diperkirakan menyumbang sekitar 80 persen dari total produksi timah di kawasan tersebut. Tak hanya itu, Asosiasi Eksportir Timah Indonesia memperkirakan ada sekitar 12.000 ton timah yang diselundupkan secara ilegal setiap tahunnya.

Skala penambangan ilegal yang begitu besar ini tentu saja menjadi persoalan serius bagi TINS. Manajemen perusahaan sebelumnya mengakui bahwa persaingan tidak sehat dengan para penambang ilegal merupakan salah satu faktor utama yang menghambat kinerja produksi mereka. Sebagai buktinya, produksi bijih timah TINS pada semester pertama tahun 2025 sempat anjlok 32 persen secara tahunan, hanya mencapai 6.997 ton.
Melihat perkembangan ini, Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee memberikan rekomendasi "Buy" untuk saham TINS. Dengan mempertimbangkan prospek pemulihan kinerja, tren harga timah global, serta komitmen pemerintah dalam menertibkan tambang ilegal, Hans menargetkan harga saham TINS bisa menyentuh Rp4.700 hingga Rp5.000 per lembar. Ia menegaskan bahwa masa depan cerah TINS kini ditopang oleh potensi peningkatan produksi dan normalisasi pasokan setelah penertiban penambangan ilegal.
Lebih lanjut, Hans Kwee menilai valuasi TINS saat ini masih sangat menarik. Dengan rasio harga terhadap laba (PER) sekitar 4,49 kali, saham TINS tergolong murah jika dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan yang mengesankan. Margin laba bersih TINS mencapai sekitar 26 persen, dengan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) sekitar 51 persen, menunjukkan efisiensi dan profitabilitas yang kuat.
Dari sudut pandang industri, prospek harga timah dunia juga tetap positif. Hal ini didorong oleh potensi defisit pasokan global yang diakibatkan oleh lonjakan permintaan dari sektor industri semikonduktor dan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang terus berkembang pesat.










Tinggalkan komentar