55 NEWS – Volatilitas harga ayam hidup (live bird) kembali menjadi sorotan utama di sektor peternakan nasional. Tekanan signifikan akibat kelebihan pasokan (oversupply) telah membuat harga di tingkat peternak anjlok, memicu kekhawatiran serius terhadap kesejahteraan mereka. Merespons kondisi krusial ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) telah mengambil langkah strategis dan terkoordinasi untuk memulihkan stabilitas harga serta mengembalikan senyum para peternak.

Related Post
Maino Dwi Hartono, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengawal implementasi kesepakatan yang telah terjalin dengan Pinsar Indonesia. "Kami melihat adanya kondisi oversupply yang menekan harga. Namun, melalui komitmen bersama ini, kami berharap harga pembelian di tingkat peternak dapat segera membaik dan mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP) yang wajar," ujar Maino, seperti dikutip dari 55tv.co.id.

Sebagai bagian integral dari kesepakatan tersebut, telah ditetapkan skema kenaikan harga pembelian live bird secara bertahap. Per 10 Juni 2026, harga ditetapkan sebesar Rp15.500 per kilogram berat hidup di Jawa Tengah, dan Rp16.000 per kilogram untuk wilayah Jawa Barat serta Jawa Timur. Kemudian, efektif mulai 12 Juni 2026, harga kembali disesuaikan menjadi Rp17.000 per kilogram di Jawa Tengah dan Rp17.500 per kilogram di Jawa Barat dan Jawa Timur. Ambisi Pinsar Indonesia bersama para pelaku usaha perunggasan tidak berhenti di situ. Mereka menargetkan harga live bird dapat mencapai level optimal Rp19.500 per kilogram berat hidup di seluruh Pulau Jawa pada 15 Juni 2026. Pencapaian target ini, menurut mereka, sangat bergantung pada kekompakan, disiplin, dan komitmen kolektif dari seluruh pemangku kepentingan di industri perunggasan.
Selain fokus pada penyesuaian harga, kesepakatan krusial ini juga menyoroti pentingnya optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diidentifikasi sebagai instrumen strategis yang tidak hanya bertujuan meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme vital untuk menyerap produksi ayam dan telur langsung dari peternak rakyat. Dengan demikian, MBG diharapkan dapat memberikan stabilitas permintaan dan menjadi solusi jangka panjang bagi fluktuasi pasokan di pasar, sekaligus menopang keberlanjutan usaha peternak di tengah dinamika ekonomi.
Editor: Akbar soaks








Tinggalkan komentar