55 NEWS – Washington DC, 22 Februari 2026 – Gejolak kebijakan perdagangan internasional kembali memanas setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA AS) membatalkan sejumlah tarif global yang sebelumnya diberlakukan oleh mantan Presiden Donald Trump. Namun, kejutan tak berhenti di situ; Trump segera mengumumkan kebijakan tarif impor global baru sebesar 10 persen. Menanggapi dinamika yang berpotensi mengguncang pasar global ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia seraya memberikan respons yang cukup mengejutkan dari ibu kota AS.

Related Post
Keputusan krusial MA AS tersebut didasarkan pada temuan bahwa kebijakan tarif yang diterapkan sebelumnya oleh Donald Trump tidak memiliki dasar kewenangan yang sah di bawah Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Pembatalan ini sempat membawa angin segar dan harapan akan stabilitas bagi banyak negara yang terdampak, termasuk Indonesia, yang selama ini menghadapi ketidakpastian dalam skema perdagangan dengan Amerika Serikat.

Namun, euforia tersebut berumur pendek. Tak lama setelah putusan MA AS dibacakan, Donald Trump, yang kembali aktif dalam panggung politik, langsung mengumumkan kebijakan tarif impor global baru sebesar 10 persen. Langkah ini seketika menciptakan gelombang ketidakpastian baru dan memicu pertanyaan mengenai arah kebijakan perdagangan AS di masa mendatang, terutama menjelang potensi pemilihan presiden.
Menyikapi situasi yang berkembang pesat ini, Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungannya di Washington DC, menyatakan penghormatan pemerintah Indonesia terhadap proses politik internal AS. "Kita siap untuk menghadapi semua kemungkinan, kita hormati politik dalam negeri Amerika Serikat. Kita lihat perkembangannya," ujar Prabowo, seperti dikutip oleh 55tv.co.id pada Minggu (22/2/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi sikap hati-hati namun proaktif Indonesia dalam menyikapi perubahan kebijakan ekonomi global.
Yang menarik, Prabowo menilai kebijakan tarif baru sebesar 10 persen ini masih berada dalam koridor yang dapat dikelola oleh Indonesia. Bahkan, ia menambahkan, "Saya kira ya menguntungkan lah (tarif 10 persen)." Pernyataan ini mengindikasikan optimisme pemerintah Indonesia dalam menghadapi tantangan perdagangan global, mungkin karena Indonesia memiliki daya saing yang cukup atau telah menyiapkan strategi mitigasi yang efektif untuk mempertahankan posisi ekspornya.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam kesempatan terpisah, mengungkapkan bahwa pemerintah akan berupaya keras mempertahankan tarif 0 persen yang sebelumnya telah disepakati antara Presiden Prabowo dan Donald Trump. "Alhamdulillah, kemarin Indonesia sudah menandatangani perjanjian dan yang diminta oleh Indonesia adalah kalau yang lain semua berlaku 10 persen, tetapi yang sudah diberikan 0 persen itu kita minta tetap," jelas Airlangga. Ini menunjukkan upaya diplomatik strategis Indonesia untuk melindungi sektor ekspornya dari dampak kebijakan tarif global yang baru, dengan mengandalkan perjanjian bilateral yang telah terjalin.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar