55 NEWS – Kabar strategis mengguncang sektor energi nasional. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian ESDM, secara serius mengkaji pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai salah satu pilar utama untuk mereduksi ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah ini dipandang krusial untuk menekan defisit neraca perdagangan dan memperkuat stabilitas ekonomi domestik. PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), entitas anak PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), menyambut positif inisiatif ini, melihatnya sebagai momentum emas untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik secara terukur dan berkelanjutan.

Related Post
Bagi PGN Gagas, proses kajian komprehensif ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah peluang strategis untuk memperkaya portofolio energi nasional dengan sumber daya gas bumi yang melimpah di dalam negeri. Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan CNG harus dipandang sebagai bagian integral dari upaya diversifikasi energi, sejalan dengan visi besar pemerintah untuk ketahanan energi.

"Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Mereka membutuhkan akses terhadap sumber energi yang tidak hanya andal dan terjangkau, tetapi juga berbasis pada sumber daya dalam negeri," ujar Santiaji di Jakarta, Kamis (30/4/2026). Ia menambahkan, CNG adalah opsi energi yang sudah teruji dan siap untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan arah kebijakan pemerintah.
Rekam jejak PGN Gagas dalam penyediaan CNG bukan hal baru. Selama lebih dari satu dekade, perusahaan ini telah menjadi tulang punggung penyedia energi bersih untuk sektor industri, komersial, UMKM, hingga transportasi. Data tahun 2025 menunjukkan performa impresif, dengan penyaluran gas bumi mencapai 4.656.449 MMBTU melalui layanan CNG dan LNG (Liquefied Natural Gas) untuk berbagai segmen tersebut.
Dari sisi infrastruktur, PGN Gagas saat ini mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang tersebar di 7 provinsi, melayani rata-rata 2.200 kendaraan per hari melalui layanan Gasku. Untuk segmen industri, komersial, dan UMKM, layanan Gaslink telah menjangkau lebih dari 600 pelanggan, dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 MMBTU sepanjang tahun 2025.
Kesiapan operasional PGN Gagas didukung penuh oleh fasilitas kompresi gas mutakhir, armada Gas Transport Module (GTM), serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya, membentuk fondasi kokoh untuk ekspansi pemanfaatan CNG secara bertahap. Pengembangan ini akan senantiasa diselaraskan dengan kebijakan pemerintah, dengan mempertimbangkan matang aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur, dan dinamika pasar. Lebih lanjut, pasokan gas bumi sebagai bahan baku utama CNG terintegrasi secara seamless dengan jaringan infrastruktur PGN, menjamin optimalisasi pemanfaatan sumber daya energi domestik.
PGN Gagas secara tegas menyatakan bahwa kehadiran CNG bukanlah pesaing, melainkan pelengkap dalam ekosistem energi nasional. Sebagai bagian integral dari Subholding Gas Pertamina, perusahaan berkomitmen untuk berkolaborasi dan tumbuh bersama ragam jenis energi lain, menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap segmen pengguna. "Diversifikasi sumber energi adalah kunci ketahanan energi bangsa. CNG hadir sebagai opsi vital yang memperkaya bauran energi nasional kita, bukan untuk menggantikan, melainkan untuk memperkuat," pungkas Santiaji, menegaskan visi jangka panjang perusahaan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar