Bahaya Impor China Ancam Industri Plastik RI

Bahaya Impor China Ancam Industri Plastik RI

55tv.co.id – Industri petrokimia nasional tengah menghadapi badai besar. Serbuan produk plastik impor murah dari Tiongkok, yang diduga kuat merupakan praktik dumping, kini memukul telak sektor hulu di Indonesia. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia Inaplas Fajar Budiono mendesak pemerintah segera bertindak dengan kebijakan pengamanan perdagangan. Tanpa intervensi cepat, daya saing industri lokal terancam lumpuh total.

COLLABMEDIANET

Fajar mengungkapkan volume impor bahan baku plastik jenis PE PP PVC dan PET dari China melonjak drastis. Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang sangat rendah jauh di bawah pasaran normal. Kondisi ini membuat produsen domestik kesulitan bersaing dan ruang gerak laba mereka kian terjepit. Beban semakin berat mengingat industri juga masih dibayangi tingginya biaya energi yang mencekik.

Bahaya Impor China Ancam Industri Plastik RI
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Jika tidak segera ada langkah konkret kapasitas produksi pabrikan hulu terancam anjlok. Fajar menambahkan untuk jenis PET dan PVC perusahaan terpaksa menjual ke pasar ekspor dengan keuntungan minim demi bertahan. Selain itu ketidakjelasan skema Harga Gas Bumi Tertentu HGBT serta harga gas non-HGBT yang mencapai sekitar 13 dolar AS per MMBtu semakin menggerus daya saing industri.

Ironisnya tekanan ini terjadi di tengah permintaan pasar dalam negeri yang masif. Indonesia masih sangat mengandalkan pasokan dari luar untuk sejumlah jenis bahan baku plastik sehingga menjadi sasaran empuk produk murah dari mancanegara. Situasi diperparah oleh dinamika perdagangan global yang bergeser membuat arus ekspor China semakin deras membanjiri pasar Indonesia. Sebagai contoh kebutuhan PE di Indonesia mencapai sekitar 2 juta ton namun pasokan domestik baru sekitar 1,2 juta ton menyisakan impor sekitar 800-900 ribu ton. Sementara untuk PP kebutuhan mencapai 2,1 juta ton dengan pasokan lokal hanya 900 ribu ton sehingga impor masih sekitar 1,2 juta ton.

Masuknya produk impor berharga miring ini mulai berdampak pada aktivitas operasional industri. Sejumlah perusahaan telah memangkas jam kerja meskipun belum sampai pada gelombang pemutusan hubungan kerja. Namun jika kondisi ini terus berlanjut PHK massal menjadi ancaman nyata. Efek domino juga merembet ke sektor penunjang seperti logistik hingga jasa bongkar muat yang kini mulai mengalami pengurangan aktivitas secara signifikan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar