Bandara Soetta Lumpuh Akibat Abu Vulkanik

Bandara Soetta Lumpuh Akibat Abu Vulkanik

55tv.co.id – Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) mengalami guncangan hebat setelah terpaksa ditutup secara total selama tiga hari berturut-turut. Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu 6 hingga 8 September 2026 ini dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu ke wilayah udara sekitar Jakarta. Penutupan ini tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga mencatatkan kerugian ekonomi yang sangat fantastis.

COLLABMEDIANET

Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), Agus Haryadi, mengungkapkan bahwa insiden ini merupakan sebuah catatan kelam sekaligus peristiwa bersejarah dalam sejarah panjang pengelolaan bandara terbesar di tanah air tersebut. Berdasarkan pengalaman profesionalnya yang sudah berlangsung selama lebih dari tiga dekade, situasi ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Bandara Soetta Lumpuh Akibat Abu Vulkanik
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Saya telah mengabdi di Bandara Soekarno-Hatta sejak tahun 1992. Dalam kurun waktu 35 tahun tersebut, belum pernah sekalipun kami mengalami penutupan operasional bandara secara menyeluruh atau total," ujar Agus dalam sebuah pertemuan bersama Kementerian Perhubungan di Bandung, sebagaimana dikutip pada Jumat (2/10/2026).

Agus memberikan perbandingan yang cukup kontras dengan masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia beberapa tahun silam. Menurutnya, meskipun pandemi menyebabkan pembatasan mobilitas yang sangat ketat, status Bandara Soekarno-Hatta saat itu tetap dinyatakan terbuka untuk melayani perjalanan masyarakat dengan protokol kesehatan tertentu. Namun, kondisi erupsi Anak Krakatau kali ini jauh lebih ekstrem karena memaksa seluruh aktivitas penerbangan berhenti total demi alasan keselamatan.

Sebelumnya, penutupan sebagian area bandara memang sering terjadi, misalnya saat ada perbaikan pada salah satu landasan pacu (runway) atau adanya gangguan teknis lainnya. Namun, penutupan seluruh area operasional hanya dilakukan ketika terdapat ancaman nyata yang membahayakan nyawa manusia di udara.

Keputusan drastis untuk menghentikan seluruh penerbangan diambil setelah adanya hasil pengujian teknis yang sangat krusial. Pihak pengelola bandara tidak ingin berspekulasi dengan keselamatan penumpang maupun awak pesawat. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hasil uji coba menunjukkan adanya kandungan abu vulkanik yang berbahaya.

"Setelah BMKG melakukan pengujian melalui paper test dan hasilnya menunjukkan adanya black glass (kaca hitam) yang positif, kami memutuskan untuk tidak mengambil risiko sedikit pun. Langkah penutupan total langsung kami eksekusi demi keamanan," tegas Agus.

Kehadiran partikel black glass dalam abu vulkanik sangat berbahaya bagi mesin jet pesawat karena dapat menyebabkan kerusakan fatal pada mesin saat terbang. Akibat dari penutupan total selama tiga hari tersebut, sektor penerbangan dilaporkan mengalami kerugian materiil yang mencapai angka Rp40 miliar. Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan betapa besarnya dampak aktivitas alam terhadap stabilitas infrastruktur transportasi nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar