55tv.co.id – Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober bukan sekadar seremoni untuk mengenang warisan leluhur. Di balik keindahan motif dan filosofinya yang mendalam, batik kini telah bertransformasi menjadi pilar ekonomi yang krusial bagi jutaan masyarakat Indonesia. Industri ini tidak hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga menjadi urat nadi penghidupan bagi para perajin tradisional hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Related Post
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan bahwa nilai batik telah melampaui batas-batas estetika budaya. Menurutnya, batik kini merupakan instrumen ekonomi yang sangat vital. Oleh karena itu, upaya pelestarian budaya tidak boleh dipisahkan dari strategi penguatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar bagi para pelakunya.

"Batik bukan hanya sekadar warisan budaya, melainkan sumber penghidupan bagi banyak perajin dan pelaku UMKM. Kita perlu memastikan bahwa pelestarian budaya berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas usaha dan keberlanjutan ekonomi para pelakunya," ujar Okki dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap identitas nasional, BNI telah mengintegrasikan batik ke dalam budaya kerja perusahaan. Para pegawai BNI diwajibkan mengenakan busana batik sebanyak dua kali dalam sepekan. Kebijakan ini bukan sekadar aturan berpakaian, melainkan bentuk konsistensi korporasi dalam menghidupkan kembali kebanggaan terhadap produk lokal di lingkungan profesional.
Lebih jauh lagi, komitmen pemberdayaan ini diwujudkan melalui berbagai langkah strategis. BNI aktif membuka ruang bagi produk batik dan kriya lokal agar bisa bersaing di kancah yang lebih luas. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah partisipasi dalam ajang Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta pada Juli lalu. Dalam gelaran tersebut, BNI membawa serta sejumlah UMKM binaan untuk memamerkan produk unggulan mereka kepada masyarakat luas.
Namun, dukungan tidak berhenti pada penyediaan wadah pameran saja. BNI juga fokus pada aspek peningkatan kualitas melalui program pelatihan dan pendampingan. Para perajin dibekali dengan pengetahuan mengenai pengembangan produk yang inovatif serta penerapan praktik usaha yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar produk batik Indonesia tidak hanya memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga memiliki daya saing yang kuat di pasar global.
Okki menambahkan bahwa misi utama dari sinergi ini adalah menciptakan ekosistem yang sehat bagi para pengrajin. "Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada menjaga apa yang sudah ada. Kita harus memastikan para pelaku di dalamnya bisa terus tumbuh. Kami berupaya menghubungkan aspek pelestarian dengan pemberdayaan UMKM, pengembangan produk, hingga perluasan jangkauan pasar," pungkasnya. Dengan demikian, batik akan terus lestari bukan hanya sebagai kain indah, tetapi sebagai mesin penggerak ekonomi rakyat yang tangguh.








Tinggalkan komentar