55 NEWS – Pasar kripto global kembali bergejolak hebat pada Senin (13/4) ketika harga Bitcoin (BTC) melesat tajam hingga 6%, mendekati level krusial USD75.000. Kenaikan dramatis ini dipicu oleh serangkaian peristiwa geopolitik yang tak terduga, bermula dari blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat. Respons Iran? Sebuah kebijakan yang mengejutkan dunia: mewajibkan pembayaran tol dalam bentuk Bitcoin bagi setiap kapal tanker yang melintasi jalur maritim vital tersebut.

Related Post
Dinamika yang memanas di salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia ini sontak memicu fenomena "short squeeze" masif, mengakibatkan likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar. Lebih dari sekadar fluktuasi pasar, insiden ini secara tegas mengukuhkan posisi mata uang kripto sebagai instrumen strategis yang semakin relevan dalam lanskap ekonomi dan politik modern.

Menanggapi perkembangan ini, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyoroti bagaimana lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya merefleksikan penguatan posisi aset digital dalam menghadapi tekanan global. "Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai yang tangguh. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas," ungkap Antony dalam keterangannya kepada 55tv.co.id di Jakarta, Rabu (15/4).
Kebijakan Iran untuk memungut tarif setara USD1 per barel dalam bentuk Bitcoin ini bukan tanpa alasan. Langkah ini secara instan menciptakan permintaan organik yang masif untuk Bitcoin. Lebih jauh, sistem pembayaran berbasis teknologi blockchain ini dimanfaatkan Iran sebagai strategi cerdik untuk memastikan kelangsungan transaksi sekaligus menghindari jerat sanksi internasional, dengan beroperasi di luar jangkauan sistem keuangan yang didominasi Amerika Serikat (AS).
Di sisi lain, tekanan inflasi di Amerika Serikat turut memperkeruh suasana. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang melonjak ke 3,3% pada Jumat (10/4) menunjukkan peningkatan signifikan, melampaui rata-rata 2,4%–3% dalam satu hingga dua tahun terakhir. Kenaikan harga, yang sebagian besar diakibatkan oleh konflik di Timur Tengah, meningkatkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi. Kondisi ini mendorong investor untuk melakukan diversifikasi portofolio ke aset alternatif seperti Bitcoin, semakin memperkuat narasi Bitcoin sebagai "safe haven" di tengah ketidakpastian dan tekanan terhadap nilai mata uang konvensional. Dengan demikian, peristiwa di Selat Hormuz ini bukan hanya sekadar gejolak harga, melainkan penanda era baru di mana aset digital mulai memainkan peran sentral dalam diplomasi ekonomi dan strategi pertahanan finansial negara-negara di panggung global.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar