55 NEWS – Bank Indonesia (BI) diprediksi kuat akan mengambil langkah konservatif yang krusial, yaitu mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Keputusan strategis ini, yang akan diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026, dinilai sebagai opsi paling rasional di tengah hantaman inflasi yang melonjak, derasnya arus modal asing keluar, dan tekanan yang tak henti-hentinya terhadap nilai tukar rupiah.

Related Post
Teuku Riefky, seorang Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), menegaskan bahwa mempertahankan BI Rate pada 4,75 persen adalah jalan tengah yang bijak. Menurutnya, langkah ini esensial untuk menjaga kepercayaan pasar yang kini tengah diuji. "Dalam pusaran tekanan inflasi dan eksodus modal asing, menahan suku bunga adalah manuver paling rasional," ungkap Riefky dalam riset terbarunya, seperti dikutip 55tv.co.id pada Kamis (19/2/2026). Ia menambahkan, "Pemangkasan suku bunga berisiko memperparah arus modal keluar, sementara kenaikan justru bisa mencekik permintaan domestik yang sedang berjuang."

Data ekonomi Januari 2026 memancarkan sinyal kewaspadaan yang kuat. Inflasi tahunan melesat menjadi 3,55 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sebuah lonjakan signifikan dibandingkan 2,92 persen pada Desember 2025. Angka ini tidak hanya mengkhawatirkan, tetapi juga telah melampaui batas atas sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia. Lonjakan inflasi ini dipicu oleh dua faktor utama: efek basis rendah (low base effect) menyusul berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik 50 persen di awal tahun sebelumnya, serta kenaikan harga emas global yang turut mendorong inflasi inti mencapai 2,45 persen (yoy).
Riefky juga mengingatkan bahwa tantangan ekonomi belum usai, justru akan semakin kompleks dengan datangnya siklus musiman. "Ke depan, tekanan inflasi dan stabilitas harga masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman yang selalu berulang," tegas Riefky. Lebih lanjut, tekanan tidak hanya berasal dari sektor riil, tetapi juga dari gejolak pasar keuangan global. Perubahan outlook Moody’s menjadi negatif, ditambah isu kelayakan investasi dari MSCI, telah memicu gelombang kekhawatiran di kalangan investor, menambah daftar panjang pertimbangan BI dalam menentukan arah kebijakannya.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar