55 NEWS – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini melakukan pertemuan strategis dengan Perdana Menteri Republik Belarus, Alexander Turchin, di Minsk. Pertemuan ini, yang berlangsung di sela-sela Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8, bukan sekadar agenda rutin, melainkan fondasi penting bagi perluasan kemitraan ekonomi strategis yang ambisius antara kedua negara, dengan fokus utama pada optimalisasi penetrasi pasar Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).

Related Post
Momentum pertemuan ini semakin krusial mengingat rencana kunjungan kenegaraan Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, ke Indonesia yang dijadwalkan pada awal Juli 2026. Kunjungan ini digadang-gadang akan menjadi tonggak sejarah, di mana kedua belah pihak menargetkan rampungnya peta jalan (roadmap) kerja sama komprehensif yang mencakup berbagai sektor vital.

"Indonesia dengan tangan terbuka siap menyambut kunjungan delegasi bisnis Belarus ke Indonesia dalam rangkaian kunjungan Presiden Belarus," ujar Menko Airlangga pada Sabtu (16/5/2026), menegaskan komitmen Indonesia untuk membuka pintu bagi investasi dan kolaborasi. Pernyataan ini mengindikasikan keseriusan pemerintah dalam menjajaki peluang ekonomi yang lebih luas.
Salah satu fokus utama yang menjadi sorotan Pemerintah Indonesia adalah keunggulan Belarus di sektor agroindustri dan mekanisasi pertanian modern. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat program ketahanan pangan nasional yang menjadi prioritas utama. Belarus, dengan kontribusi manufaktur mencapai 20,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingkat swasembada pangan yang impresif, mencapai 96 persen pada tahun 2024, dipandang sebagai mitra ideal. Kapabilitas Belarus diyakini mampu mempercepat modernisasi sektor pertanian di Tanah Air, mulai dari teknologi budidaya hingga pascapanen, serta membuka potensi ekspor produk pertanian bernilai tambah.
Lebih dari itu, kerja sama ini juga berpotensi merambah sektor energi dan Free Trade Agreement (FTA) antara Indonesia dan Belarus, yang pada gilirannya dapat membuka akses pasar lebih luas bagi produk-produk Indonesia di kawasan EAEU. Pertemuan ini bukan hanya tentang diplomasi, melainkan tentang visi jangka panjang untuk diversifikasi mitra dagang dan penguatan posisi ekonomi Indonesia di kancah global.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar