Bukan Soal Dana! Bos BRI Beberkan Fakta Mengejutkan di Balik Lesunya Kredit Nasional: Ada Apa Sebenarnya?

Bukan Soal Dana! Bos BRI Beberkan Fakta Mengejutkan di Balik Lesunya Kredit Nasional: Ada Apa Sebenarnya?

55 NEWS – Sektor perbankan nasional, meskipun memiliki fondasi likuiditas dan permodalan yang sangat kuat, ternyata menghadapi kendala signifikan dalam mendorong akselerasi penyaluran kredit. Tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan dana, melainkan pada sisi permintaan (demand) yang lesu, dipicu oleh kehati-hatian dunia usaha dan pemulihan daya beli masyarakat yang belum merata. Demikian pandangan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, dalam forum Economic Outlook 2026 yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Kamis (19/2).

COLLABMEDIANET

Forum diskusi penting tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh ekonomi terkemuka, termasuk Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi; Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu; serta Chief Executive Officer Standard Chartered, Donny Donosepoetro.

Bukan Soal Dana! Bos BRI Beberkan Fakta Mengejutkan di Balik Lesunya Kredit Nasional: Ada Apa Sebenarnya?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Hery Gunardi merinci, secara fundamental, industri perbankan Indonesia memiliki kapasitas yang lebih dari cukup untuk mendukung ekspansi kredit yang pruden dan berkelanjutan. Indikator likuiditas menunjukkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang solid mencapai 11,4% secara tahunan (YoY), dengan rasio Loan-to-Deposit Ratio (LDR) yang sehat di kisaran 84% YoY. Selain itu, permodalan sektor ini juga sangat kuat, tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 26%, jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator.

Meskipun demikian, ia menyoroti bahwa pertumbuhan kredit secara tahunan hingga Desember 2025 masih tertahan di level satu digit. Berdasarkan analisis Bank Indonesia, perlambatan ini utamanya disebabkan oleh faktor permintaan.

Data dari Bank Indonesia memperkuat argumen tersebut, menunjukkan penurunan signifikan dalam permintaan kredit baru di mayoritas segmen. Kredit konsumsi, misalnya, anjlok drastis dari 62,9% menjadi hanya 13,4%. Demikian pula, permintaan kredit dari segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami koreksi dari 78,4% menjadi 58,8%. Fenomena menarik lainnya adalah peningkatan rata-rata undisbursed loan atau fasilitas kredit yang telah disetujui namun belum ditarik, mencapai 10,22%.

"Ini mengindikasikan bahwa fasilitas kredit yang telah disetujui oleh perbankan, serta ketersediaan likuiditas, sebenarnya sangat memadai," jelas Hery. "Namun, realisasi penarikan dana tersebut tertahan. Kondisi ini secara jelas merefleksikan sikap ‘wait and see’ atau kehati-hatian yang dominan di kalangan dunia usaha maupun rumah tangga sebagai nasabah individu. Oleh karena itu, tantangan utama saat ini bukan lagi pada pasokan dana, melainkan pada tingkat kepercayaan dan optimisme terhadap prospek usaha di masa mendatang. Yang dibutuhkan saat ini, bukan sekadar suntikan likuiditas tambahan, melainkan penguatan keyakinan para pelaku usaha agar mereka kembali berani melakukan ekspansi dan investasi," pungkasnya.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar