55tv.co.id – Rencana besar pemerintah untuk memperkuat struktur permodalan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai menemui titik terang. Badan Pengelola Investasi Danantara kini tengah melakukan langkah strategis dengan memetakan sejumlah perusahaan pelat merah yang diproyeksikan akan melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Related Post
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang dalam tahap identifikasi mendalam terhadap sejumlah perusahaan yang dinilai memiliki fundamental kuat dan daya tarik tinggi di mata investor. Proses pengkajian ini dilakukan untuk memastikan bahwa perusahaan yang akan melantai di bursa nantinya benar-benar siap menghadapi dinamika pasar modal.

Menurut Rosan, target besar ini diproyeksikan akan mulai terlihat hasilnya pada tahun 2027 mendatang. Meski demikian, proses seleksi dan pematangan rencana ini sudah digencarkan sejak saat ini. Ia menjelaskan bahwa tim Danantara sedang bekerja keras untuk menuntaskan daftar perusahaan potensial sebelum tahun ini berakhir.
"Kami sedang melakukan identifikasi secara intensif. Target kami, pada akhir tahun ini, kami akan menuntaskan daftar beberapa perusahaan yang telah kami tinjau. Perusahaan-perusahaan ini kami lihat memiliki potensi besar serta mendapatkan respons yang sangat positif, baik dari masyarakat luas maupun dari kalangan dunia usaha, baik skala domestik maupun internasional," ujar Rosan saat memberikan keterangan di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Terkait sektor mana saja yang akan mendominasi pasar modal melalui aksi korporasi ini, Rosan memberikan bocoran mengenai beberapa sektor kunci. Ia menyebutkan bahwa sektor keuangan, infrastruktur, hingga sektor pertambangan menjadi kandidat kuat yang sedang dalam radar pengawasan Danantara. Walaupun demikian, ia masih enggan menyebutkan nama-nama spesifik perusahaan yang akan melantai guna menjaga kerahasiaan proses transisi dan persiapan internal perusahaan terkait.
Langkah BUMN untuk melakukan IPO bukan sekadar strategi untuk mendapatkan suntikan dana segar. Rosan menekankan bahwa ada misi yang lebih besar di balik keputusan ini, yakni penguatan tata kelola perusahaan atau Good Corporate Governance (GCG). Dengan menjadi perusahaan terbuka, BUMN akan dituntut untuk lebih transparan dan akuntabel. Hal ini dikarenakan perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas, tetapi juga kepada publik sebagai pemegang saham minoritas.
Pengawasan yang lebih ketat dari pasar modal diharapkan mampu memacu kinerja manajemen agar tetap optimal dan kompetitif di level global. Selain itu, pendanaan yang diperoleh dari pasar modal akan dialokasikan untuk berbagai keperluan ekspansi usaha, sehingga perusahaan dapat tumbuh lebih agresif tanpa harus selalu bergantung pada APBN.
Senada dengan hal tersebut, Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, sebelumnya juga telah memberikan sinyal serupa. Ia menegaskan bahwa mencari alternatif pendanaan melalui pasar modal merupakan langkah logis bagi BUMN yang sedang dalam fase pertumbuhan pesat untuk memperkuat struktur permodalan mereka.










Tinggalkan komentar