Gawat! Rupiah di Ambang Tekanan Hebat, Analis Prediksi Tembus Rp17.100 Pekan Depan! Gejolak Geopolitik dan Krisis Energi Jadi Biang Kerok?

Gawat! Rupiah di Ambang Tekanan Hebat, Analis Prediksi Tembus Rp17.100 Pekan Depan! Gejolak Geopolitik dan Krisis Energi Jadi Biang Kerok?

55 NEWS – Jakarta – Mata uang Garuda diprediksi akan menghadapi tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan, Senin (30/3/2026), dengan potensi menembus level psikologis krusial. Analis pasar memperingatkan bahwa kombinasi krisis energi global dan gejolak geopolitik akan menjadi pemicu utama pelemahan ini, mengancam stabilitas ekonomi domestik.

COLLABMEDIANET

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang dan komoditas terkemuka, secara eksplisit menyatakan kekhawatirannya. Menurut analisisnya yang dirilis pada Minggu (29/3/2026), nilai tukar rupiah sangat mungkin mencapai angka Rp17.100 per dolar AS. "Level Rp17.100 adalah batas psikologis yang perlu kita perhatikan serius," ujarnya, menekankan urgensi situasi ini di tengah ketidakpastian global.

Gawat! Rupiah di Ambang Tekanan Hebat, Analis Prediksi Tembus Rp17.100 Pekan Depan! Gejolak Geopolitik dan Krisis Energi Jadi Biang Kerok?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor dominan yang memicu tekanan ini. Ibrahim memproyeksikan indeks ini akan bergerak dalam kisaran kuat antara 99,300 hingga 101,600. Kondisi ini secara inheren akan menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, yang rentan terhadap fluktuasi global dan sentimen pasar terhadap aset berisiko.

Penyebab utama di balik penguatan dolar dan tekanan pada rupiah adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ancaman pemblokiran Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global, serta dinamika militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah menciptakan ketidakpastian pasar yang masif dan mengganggu rantai pasok energi dunia.

Ibrahim menjelaskan bahwa konflik di kawasan tersebut telah mengakibatkan penurunan produksi minyak di Timur Tengah hingga 10 juta barel per hari. Situasi ini diperparah oleh serangan yang terus-menerus dilakukan Ukraina terhadap fasilitas kilang minyak di Rusia, yang secara kolektif memperparah kelangkaan pasokan energi di pasar global dan mendorong kenaikan harga komoditas.

Mengutip Ibrahim, "Geopolitik di Timur Tengah masih sangat dinamis. Isu pembatasan transportasi di Selat Hormuz, penundaan serangan yang terus menjadi spekulasi, dan perang yang tak kunjung usai, semuanya berkontribusi pada defisit produksi minyak hingga 10 juta barel per hari di kawasan tersebut." Hal ini mengindikasikan krisis energi yang mendalam yang berdampak luas.

Sementara itu, dari ranah domestik Amerika Serikat, dinamika politik juga turut menyumbang ketidakpastian. Tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Donald Trump dilaporkan menurun di bawah 40 persen, dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar dan status darurat penerbangan. Kendati demikian, perhatian pelaku pasar kini beralih ke Bank Sentral AS. Mereka menantikan kedatangan Kevin Hoss pada April mendatang, yang diperkirakan akan mengadopsi kebijakan moneter berani, termasuk potensi penurunan suku bunga, meskipun di tengah bayang-bayang inflasi yang masih persisten. Kebijakan ini, jika terealisasi, bisa menjadi faktor penentu arah dolar AS ke depan.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar