55 NEWS – Presiden terpilih Prabowo Subianto secara tegas mengumumkan langkah revolusioner dalam menata ulang lanskap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia. Evaluasi dan penertiban masif ini digulirkan demi meningkatkan efisiensi, memastikan akuntabilitas penggunaan uang rakyat, serta membebaskan keuangan negara dari beban perusahaan-perusahaan pelat merah yang tidak produktif. Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, pada Minggu (28/6/2026).

Related Post
Dalam forum tersebut, Prabowo sempat menyoroti salah satu usulan krusial dari para akademisi, yakni alokasi sebagian laba BUMN untuk dana riset perguruan tinggi. Namun, pertanyaan kritis langsung terlontar dari Prabowo: "Masalahnya, BUMN ini ada labanya nggak? Sekarang mulai ada? Terima kasih Danantara, ya, terima kasih. Satu tahun ini sudah mulai ada laba, ya," ujarnya, mengindikasikan bahwa profitabilitas BUMN masih menjadi isu utama yang perlu dibenahi secara fundamental.

Prabowo secara blak-blakan mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya BUMN yang selama ini tidak mampu menghasilkan keuntungan signifikan, bahkan cenderung membebani kas negara. Ironisnya, di tengah kondisi keuangan yang kurang sehat, perusahaan-perusahaan tersebut tetap harus menanggung biaya operasional yang tinggi, termasuk pembayaran gaji direksi dan komisaris yang kerap menjadi sorotan publik. Fenomena ini, menurut Prabowo, telah lama menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Indonesia.
Situasi ini, lanjut Prabowo, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. "Masalahnya kemarin ini BUMN-BUMN ini, ya kita sudah tahulah, ya, sudah lama jadi orang Indonesia saudara sudah mengerti. Ini sedang kita bersihkan, sedang kita tertibkan," tegasnya, menandakan komitmen kuat untuk melakukan reformasi menyeluruh demi menciptakan ekosistem BUMN yang lebih sehat dan berdaya saing.
Dalam upaya restrukturisasi ini, Prabowo bahkan secara langsung menanyakan kepada Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, mengenai target efisiensi jumlah perusahaan pelat merah. Ia menyebut, dari lebih dari 1.000 BUMN yang ada saat ini, jumlahnya dapat dipangkas secara drastis hingga tersisa sekitar 250 hingga 300 perusahaan saja. "Dari 1.000 lebih BUMN sekarang kita sudah tutup lebih dari 200. Nantinya kita akan bikin tinggal 300-lah. Gimana, Pak Dony? Ujungnya kita bisa berapa BUMN? Ujungnya nanti 250?" tanya Prabowo, yang disambut anggukan persetujuan oleh Dony Oskaria, mengisyaratkan bahwa target ambisius ini bukan sekadar wacana, melainkan rencana konkret yang sedang berjalan untuk mengoptimalkan aset-aset negara.
Editor: Akbar soaks








Tinggalkan komentar