GEGER! Ancaman Invasi Darat Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia ke Titik KRITIS, Akankah Ekonomi Global Terjebak Krisis Energi Terparah dalam Dekade?

GEGER! Ancaman Invasi Darat Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia ke Titik KRITIS, Akankah Ekonomi Global Terjebak Krisis Energi Terparah dalam Dekade?

55 NEWS – Pasar komoditas global kembali bergejolak hebat menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent, sebagai patokan internasional, melonjak drastis lebih dari 3 persen pada perdagangan Senin pagi, menembus angka USD116 per barel. Kenaikan signifikan ini mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam hampir dua minggu terakhir, mendekati rekor USD119 per barel yang sempat tercapai pada 19 Maret lalu.

COLLABMEDIANET

Lonjakan harga yang mengejutkan ini dipicu oleh pernyataan keras dari Iran yang menegaskan kesiapannya menghadapi potensi invasi darat oleh Amerika Serikat. Ketua parlemen Iran secara terbuka memperingatkan bahwa Teheran siap membakar pasukan AS yang datang dan akan memberikan hukuman setimpal kepada sekutu regional mereka. Pernyataan ini, seperti dilaporkan oleh Aljazeera dan dikutip oleh 55tv.co.id pada Senin, mengindikasikan memburuknya situasi konflik di kawasan.

GEGER! Ancaman Invasi Darat Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia ke Titik KRITIS, Akankah Ekonomi Global Terjebak Krisis Energi Terparah dalam Dekade?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Kondisi di Timur Tengah memang semakin memanas sepanjang akhir pekan. Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan rudal ke Israel, menandai pertama kalinya serangan semacam itu terjadi dalam konflik yang sedang berlangsung. Di sisi lain, Israel juga memperluas operasi militernya hingga ke Lebanon selatan, menambah daftar panjang titik-titik konflik yang berpotensi memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas.

Dampak dari ketidakpastian geopolitik ini langsung terasa di pasar keuangan Asia. Indeks saham utama di kawasan tersebut anjlok tajam pada perdagangan pagi. Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan, misalnya, sama-sama terperosok lebih dari 4 persen pada pukul 1:30 GMT, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global di tengah ancaman krisis energi.

Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sebagai respons balasan terhadap serangan AS-Israel, berpotensi memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Selat strategis ini merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Jika lalu lintas maritim di selat ini terganggu secara efektif, dampaknya terhadap pasokan energi global akan sangat parah, mengancam rantai pasok dan inflasi di berbagai negara.

Sejak awal konflik, harga minyak telah meroket hampir 60 persen, memicu kenaikan harga bahan bakar di seluruh dunia. Kondisi ini memaksa banyak negara untuk mengadopsi langkah-langkah darurat guna menghemat energi dan menstabilkan perekonomian domestik mereka. Para analis pasar memperingatkan bahwa tren kenaikan harga minyak kemungkinan besar akan terus berlanjut, kecuali jika lalu lintas maritim di Selat Hormuz dapat kembali normal dan ketegangan mereda.

Di tengah ketegangan yang memuncak, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras. Ia menyatakan akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Teheran tidak melepaskan cengkeramannya atas jalur air strategis tersebut sebelum batas waktu 6 April. Namun, dalam perkembangan terbaru, Trump memperpanjang batas waktu tersebut selama 10 hari.

Menariknya, Trump juga mengusulkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang di Iran, menyoroti prospek terobosan dalam pembicaraan tidak langsung yang dimediasi oleh Pakistan. "Saya melihat kesepakatan di Iran, ya," kata Trump kepada wartawan di Air Force One pada Minggu malam. "Bisa segera terjadi." Pernyataan ini memberikan secercah harapan di tengah bayang-bayang konflik yang semakin memburuk, meskipun pasar tetap waspada terhadap dinamika yang sangat volatil ini.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar