55 NEWS – Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran, kini mulai menunjukkan taringnya di sektor ekonomi domestik Indonesia. Harga plastik di Tanah Air terpantau mengalami lonjakan signifikan, didorong oleh meroketnya harga bahan baku utama, nafta, senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi, yang melonjak hampir 45% hanya dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius akan potensi inflasi dan disrupsi rantai pasok.

Related Post
Dampak domino ini segera terasa di berbagai lini industri. Asosiasi pengusaha makanan dan minuman (mamin) melaporkan adanya kenaikan harga plastik kemasan yang mencengangkan, mencapai 50%. Sementara itu, para pelaku usaha di rantai industri petrokimia dan plastik mengakui tengah berada dalam mode ‘bertahan’ (survival mode), menghadapi tekanan biaya produksi yang kian mencekik. Situasi ini berpotensi mengerek harga produk-produk konsumsi yang sangat bergantung pada kemasan plastik, mulai dari makanan hingga minuman, dan pada akhirnya membebani kantong konsumen.

Menyikapi situasi genting ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk mencari sumber alternatif bahan baku plastik. Langkah ini diambil sebagai antisipasi serius terhadap potensi gangguan pasokan impor dari negara-negara di kawasan Timur Tengah. Mendag Budi secara eksplisit menyatakan bahwa kondisi geopolitik di wilayah tersebut telah berdampak langsung pada aktivitas impor nafta, komponen krusial dalam produksi plastik.
“Nafta, sebagai bahan baku utama, mayoritas kita impor dari Timur Tengah. Ini berarti kita sangat terdampak oleh gejolak di sana,” ungkap Mendag Budi di Kantor Staf Presiden, Jakarta, pada Rabu, 1 April 2026. Ia menambahkan, “Langkah konkret yang sedang kami tempuh adalah mencari alternatif pemasok dari negara lain.” Mendag merujuk pada nafta sebagai senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi yang vital untuk produksi resin plastik, karet, dan berbagai pelarut. Upaya pendekatan telah dilakukan dengan sejumlah negara, termasuk India, serta beberapa mitra potensial di Afrika dan Amerika.
Meskipun demikian, Mendag Budi mengakui bahwa proses transisi ini tidak akan instan. “Memang ini butuh waktu, mengingat perubahan sumber pasokan dari Timur Tengah ke negara lain tidak bisa dilakukan secara mendadak. Kami berharap proses ini dapat berjalan lancar, sehingga stabilitas harga dapat kembali normal dan tidak membebani lebih lanjut sektor industri maupun konsumen,” pungkasnya, dikutip dari 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar