Geger! Impor Mobil India oleh Agrinas Picu Badai Ekonomi: Rp39 Triliun Lenyap, Ratusan Ribu Pekerja Terancam, dan Aturan TKDN Terabaikan?

Geger! Impor Mobil India oleh Agrinas Picu Badai Ekonomi: Rp39 Triliun Lenyap, Ratusan Ribu Pekerja Terancam, dan Aturan TKDN Terabaikan?

55 NEWS – Sebuah kebijakan impor yang dilakukan oleh BUMN Agrinas Pangan Nusantara berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang masif bagi Indonesia, mencapai angka fantastis Rp39,29 triliun dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tak hanya itu, pendapatan masyarakat juga terancam menyusut hingga Rp39,05 triliun, dengan bayang-bayang 330 ribu pekerja kehilangan mata pencarian.

COLLABMEDIANET

Kajian mendalam dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menyoroti dampak serius dari rencana Agrinas mengimpor 105.000 unit kendaraan pikap dan truk dari India. Kesepakatan impor senilai Rp24,66 triliun ini, yang ditujukan untuk mendukung operasional logistik Koperasi Desa Merah Putih, justru dinilai bakal memicu efek domino negatif yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.

Geger! Impor Mobil India oleh Agrinas Picu Badai Ekonomi: Rp39 Triliun Lenyap, Ratusan Ribu Pekerja Terancam, dan Aturan TKDN Terabaikan?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ekonom Celios, Nailul Huda, secara tegas mengingatkan bahwa gelombang importasi kendaraan dari India ini berpotensi besar ‘mencabut’ akar mata pencarian ribuan pekerja di sektor otomotif domestik. Dampak tidak hanya dirasakan oleh buruh pabrik, melainkan juga merembet ke pelaku usaha kecil dan menengah seperti pemilik bengkel perbaikan, hingga penyedia suku cadang. Bahkan, pabrikan otomotif berskala nasional pun terancam mengalami guncangan finansial yang signifikan.

"Importasi ini sama sekali tidak menciptakan aktivitas ekonomi baru. Sebaliknya, ia berpotensi menggerus pangsa pasar produk pikap yang sudah diproduksi dan dirakit di dalam negeri. Alih-alih tumbuh, ekonomi kita justru bisa menyusut akibat kebijakan impor ini karena akan mengurangi PDB," jelas Huda kepada 55tv.co.id di Jakarta. Ia menekankan bahwa tidak ada nilai tambah ekonomi yang dihasilkan dari pembelian produk jadi dari luar negeri, yang justru meniadakan peluang bagi industri lokal.

Lebih lanjut, Huda juga menyoroti potensi pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur. Seharusnya, jika Agrinas memprioritaskan produsen lokal, efek berganda dari aktivitas produksi ratusan ribu kendaraan ini akan mendongkrak perekonomian dan menciptakan lapangan kerja. Namun, dengan impor CBU (Completely Built Up) atau kendaraan jadi, Agrinas dinilai menyalahi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang seharusnya menjadi pilar penguatan industri domestik.

"Industri otomotif, khususnya segmen pikap, akan menanggung kerugian signifikan. Konsekuensinya, mereka akan terpaksa mengurangi volume produksi dan pembelian bahan baku, yang pada akhirnya melemahkan PMI Manufaktur industri otomotif," tegas Huda. Ia menambahkan, langkah Agrinas yang mengimpor kendaraan dalam bentuk jadi sepenuhnya secara terang-terangan mengabaikan semangat dan regulasi TKDN yang telah ditetapkan pemerintah untuk melindungi dan mengembangkan industri dalam negeri.

Kontrak impor Agrinas mencakup total 105.000 unit kendaraan dari dua raksasa otomotif India. Rinciannya, 35.000 unit Scorpio Pik Up dipasok oleh Mahindra & Mahindra, serta 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, yang terdiri dari 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck. Keputusan ini kini menjadi sorotan tajam, mengingat potensi kerugian ekonomi dan sosial yang sangat besar bagi bangsa.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar