55 NEWS – Pasar komoditas global kembali diguncang gejolak signifikan. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga 7,5 persen, menembus level USD93,80 per barel, menyusul serangkaian insiden penyerangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan perairan Irak. Eskalasi ketegangan geopolitik ini sontak memicu kekhawatiran mendalam akan lonjakan inflasi dan potensi kenaikan biaya pinjaman secara global.

Related Post
Kenaikan harga komoditas strategis ini terjadi di luar dugaan, bahkan setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan rencana ambisius untuk melepas 400 juta barel cadangan minyak strategis. Amerika Serikat sendiri dijadwalkan untuk menyumbang 172 juta barel dari total tersebut mulai pekan depan, sebuah langkah yang semula diharapkan dapat mendinginkan pasar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa upaya stabilisasi tersebut belum mampu membendung tekanan harga.

Laporan dari pejabat keamanan Irak mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker pengangkut bahan bakar di perairan Irak menjadi sasaran serangan oleh kapal-kapal Iran yang diduga membawa bahan peledak. Insiden ini berakibat fatal, menyebabkan operasional pelabuhan minyak di wilayah tersebut terhenti total, menambah kekacauan pada rantai pasok energi global.
Tony Sycamore, seorang analis pasar terkemuka, seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (12/3/2026), mengungkapkan kekhawatirannya. "Beberapa kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Irak dilaporkan terbakar di Teluk Persia, di lepas pantai Basra, dengan tumpahan minyak yang terbakar menyebar di laut," ujarnya. Sycamore menafsirkan insiden ini sebagai "respons langsung dan tegas dari Iran terhadap pengumuman IEA semalam mengenai pelepasan cadangan strategis besar-besaran yang bertujuan meredam lonjakan harga."
Tidak hanya itu, Iran juga dilaporkan mengintensifkan serangannya terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dunia. Tindakan ini, menurut pengamat, merupakan pesan tegas dari Teheran bahwa komunitas global harus bersiap menghadapi skenario harga minyak yang bisa melonjak hingga USD200 per barel. Setidaknya tiga kapal dilaporkan dihantam di perairan Teluk setelah Garda Revolusi Iran melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal yang dianggap tidak mematuhi perintah mereka.
Di tengah eskalasi ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan yang menambah kompleksitas situasi. Ia mengklaim bahwa "perang melawan Iran telah dimenangkan," namun menegaskan bahwa Amerika Serikat akan terus berjuang "untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut." Pernyataan ambigu ini, yang dilansir oleh 55tv.co.id, semakin memperkeruh sentimen pasar dan menambah lapisan ketidakpastian di panggung geopolitik global.
Editor: Akbar soaks


Tinggalkan komentar