Guncangan Pasar Energi Global: Harga Minyak Brent Nyaris Sentuh USD100, Memicu Kekhawatiran Inflasi! Namun, Telepon Mengejutkan Trump-Putin Beri Harapan Baru?

Guncangan Pasar Energi Global: Harga Minyak Brent Nyaris Sentuh USD100, Memicu Kekhawatiran Inflasi! Namun, Telepon Mengejutkan Trump-Putin Beri Harapan Baru?

55 NEWS – Pasar minyak dunia dilanda gejolak signifikan pada perdagangan Senin (8/3/2026), dengan harga komoditas strategis ini melonjak tajam sekitar 7% dan mencapai level penutupan tertinggi sejak tahun 2022. Kenaikan drastis ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang memanas serta langkah pemangkasan pasokan oleh negara-negara produsen utama, menciptakan kekhawatiran baru akan tekanan inflasi global.

COLLABMEDIANET

Lonjakan harga tersebut utamanya bersumber dari keputusan Arab Saudi dan beberapa anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mengurangi produksi. Kebijakan ini diambil di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang menciptakan ketidakpastian besar terhadap stabilitas pasokan minyak global. Kekhawatiran akan gangguan pasokan di salah satu kawasan penghasil minyak terbesar dunia sontak mendorong spekulasi kenaikan harga, bahkan sempat melonjak hingga 29% di puncaknya selama sesi perdagangan.

Guncangan Pasar Energi Global: Harga Minyak Brent Nyaris Sentuh USD100, Memicu Kekhawatiran Inflasi! Namun, Telepon Mengejutkan Trump-Putin Beri Harapan Baru?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Namun, euforia kenaikan harga tidak berlangsung lama. Tak lama setelah penutupan pasar, harga minyak berbalik arah, melemah secara signifikan menyusul kabar percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Penurunan harga pasca-penutupan ini mencapai lebih dari 5%, setelah Gedung Putih mengisyaratkan pertimbangan untuk melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia. Langkah ini diyakini sebagai upaya Washington untuk meredam lonjakan harga energi global yang berpotensi memicu inflasi dan mengganggu pemulihan ekonomi.

Dari Moskow, Presiden Putin sebelumnya menyatakan kesiapan Rusia untuk memasok minyak dan gas alam ke pasar Eropa, sebuah pernyataan yang dapat menambah pasokan di tengah kekhawatiran krisis energi. Sementara itu, Presiden Trump, dalam wawancara terpisah, mengklaim bahwa "perang" melawan Iran berjalan "sangat lancar" dan "jauh lebih maju dari perkiraan awal". Pernyataan ini, meskipun terpisah, turut menambah kompleksitas dinamika geopolitik yang mempengaruhi pasar energi.

Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah berjangka Brent naik USD6,27 atau 6,8% menjadi USD98,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD3,87 atau 4,3% menjadi USD94,77 per barel. Meskipun terjadi koreksi pasca-penutupan, kedua patokan harga ini masih mencatatkan kenaikan lebih dari 35% sejak dimulainya konflik Iran, menandakan volatilitas tinggi yang masih membayangi pasar komoditas vital ini.

Kondisi pasar global ini tentu mendapat perhatian serius dari dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya telah menyuarakan keprihatinannya terkait lonjakan harga minyak dunia yang menembus angka USD100 per barel, jauh melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan di angka USD70 per barel. Situasi ini berpotensi memberikan tekanan signifikan pada subsidi energi dan stabilitas fiskal nasional, seperti dilansir oleh 55tv.co.id.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar