55 NEWS – JAKARTA – Prospek harga minyak mentah global kembali menjadi sorotan tajam di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi. Dalam Panel Energi yang diselenggarakan di ajang St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, para pakar energi terkemuka memprediksi bahwa harga minyak masih akan bergerak tinggi dalam setahun ke depan. Ketidakpastian geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, serta potensi gangguan pasokan global, disebut-sebut sebagai pemicu utama tren kenaikan ini.

Related Post
Forum ekonomi tahunan SPIEF, yang tahun ini berlangsung di St. Petersburg, Rusia, pada 3-6 Juni 2026, menjadi wadah penting bagi pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis global. Panel energi yang menjadi fokus perhatian ini menghadirkan nama-nama besar di industri, antara lain CEO Rosneft Oil Company Igor Sechin, Menteri Energi Uzbekistan Jorabek Mirzamahmudov, mantan Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Nobuo Tanaka, serta Presiden TOFS Group of Companies David Gadzhimirzaev.

Dalam diskusinya, Igor Sechin secara tegas menyoroti perkembangan situasi di Selat Hormuz sebagai faktor krusial yang akan membentuk arah pasar minyak global dalam jangka menengah. "Jika Anda dapat memberi tahu saya secara pasti berapa lama krisis di Selat Hormuz akan berlangsung, akan lebih mudah bagi kami untuk menentukan dampaknya terhadap harga dari 16 juta barel per hari yang terdampak dari pasar," ujar Sechin, seperti dilansir oleh 55tv.co.id. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa sentralnya stabilitas jalur pelayaran vital tersebut bagi keseimbangan pasokan energi dunia.
Menurut Sechin, apabila berbagai pembatasan terkait konflik di Selat Hormuz dapat segera dicabut, harga rata-rata minyak pada akhir tahun 2026 berpotensi berada di kisaran USD95-96 per barel. Namun, ia menekankan bahwa pemulihan pasar tidak akan instan. "Dibutuhkan sekitar enam bulan untuk memulihkan momentum positif. Kemudian, dalam waktu satu tahun, kita kemungkinan akan melihat harga di kisaran USD80-85 per barel," jelasnya.
Sechin menambahkan bahwa pemulihan pasokan memerlukan waktu dan investasi signifikan. Oleh karena itu, ia memperkirakan bahwa pada paruh kedua tahun 2027, barulah pasar minyak mungkin dapat kembali pada indikator fundamentalnya. "Saya percaya ini merupakan pendekatan yang lebih objektif dalam melihat pembentukan harga," pungkas Sechin, memberikan gambaran realistis mengenai tantangan dan waktu yang dibutuhkan untuk stabilisasi pasar energi global.
Editor: Akbar soaks








Tinggalkan komentar