55 NEWS – Semangat Hari Batik Nasional tahun ini terasa berbeda. Di tengah perayaan, para pengrajin batik di seluruh Indonesia mendapatkan angin segar berupa literasi keuangan dan pelatihan khusus. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, dua aspek krusial bagi keberlangsungan industri batik.

Related Post
Direktur Risk Management Bank Tabungan Negara (BTN), Setiyo Wibowo, menekankan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam mendukung sektor-sektor strategis nasional, termasuk industri batik. Menurutnya, batik bukan sekadar produk budaya, melainkan bagian dari kebutuhan dasar masyarakat yang menopang kehidupan jutaan pengrajin di berbagai daerah. BTN juga memberikan perhatian khusus pada upaya pelestarian lingkungan dalam mendukung industri batik.

Tak hanya itu, para pengrajin juga mendapatkan informasi penting seputar pengelolaan keuangan yang baik dan benar. Peluang pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga disosialisasikan, membuka akses modal yang lebih luas bagi para pelaku UMKM batik.
Founder & CEO Trusmi Group, Ibnu Riyanto, melihat Hari Batik Nasional sebagai momentum penting untuk membangkitkan kembali gairah industri batik, terutama di wilayah Cirebon yang mengalami stagnasi dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengungkapkan bahwa pasca pengakuan batik oleh UNESCO pada 2009, antusiasme masyarakat sempat meningkat, namun mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir.
Ibnu menambahkan bahwa strategi baru seperti memperkenalkan batik ramah lingkungan dapat menjadi peluang menarik untuk menggerakkan pasar dan menarik minat konsumen yang semakin peduli terhadap isu-isu lingkungan. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci untuk menjaga relevansi batik di era modern ini.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar