55tv.co.id – Pasar modal Indonesia diprediksi akan menghadapi tantangan cukup berat dalam sepekan ke depan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih rentan mengalami koreksi teknis, yang membuat para investor perlu meningkatkan kewaspadaan dalam mengambil keputusan investasi. Berdasarkan proyeksi pasar, pergerakan indeks kemungkinan besar akan bergerak fluktuatif di rentang level tertentu.

Related Post
Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengungkapkan bahwa IHSG diprediksi akan menguji level dukungan (support) di angka 5.973 dan akan menghadapi hambatan pada level resistansi di posisi 6.227. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi tekanan jual yang dapat menahan laju kenaikan indeks dalam jangka pendek.

"Sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan support di 5.973 dan resistance di 6.227," ujar Herditya saat memberikan keterangan di Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab utama mengapa IHSG diprediksi akan mengalami tekanan. Faktor pertama yang paling krusial adalah penantian pasar terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Data ini menjadi indikator vital bagi para pelaku pasar global untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Jika data inflasi menunjukkan angka yang tidak sesuai ekspektasi, ketidakpastian pasar akan meningkat dan dapat memicu aksi jual di berbagai bursa saham, termasuk Indonesia.
Selain faktor inflasi AS, faktor kedua yang membayangi pasar domestik adalah dinamika nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Rupiah saat ini dinilai masih rawan mengalami pelemahan, yang secara langsung akan memengaruhi arus modal asing (foreign flow). Jika nilai tukar Rupiah melemah, investor asing cenderung akan menarik dana mereka dari pasar saham Indonesia untuk menghindari kerugian kurs, yang pada akhirnya akan menekan pergerakan IHSG.
Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah volatilitas harga komoditas global, terutama minyak bumi. Meskipun Amerika Serikat telah memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan melakukan serangan militer ke Iran sebelum pelaksanaan pemilihan kongres (midterm election), namun ketegangan geopolitik di kawasan tersebut tetap menjadi faktor risiko yang nyata. Ketidakpastian geopolitik ini sering kali memicu fluktuasi harga energi secara mendadak, yang dapat berdampak pada sentimen pasar saham secara keseluruhan.
Menghadapi kondisi tersebut, para investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan lebih selektif dalam memilih saham. Mengingat adanya potensi koreksi, menjaga likuiditas dan memperhatikan pergerakan arus modal asing menjadi strategi yang sangat penting untuk memitigasi risiko kerugian di tengah ketidakpastian ekonomi global ini.








Tinggalkan komentar