Jaga Kantong Rakyat di Tengah Badai Ekonomi Global: Menguak Fakta Mengejutkan Perbandingan Harga BBM Subsidi Indonesia dan Malaysia! Siapa Paling Efektif Redam Inflasi?

Jaga Kantong Rakyat di Tengah Badai Ekonomi Global: Menguak Fakta Mengejutkan Perbandingan Harga BBM Subsidi Indonesia dan Malaysia! Siapa Paling Efektif Redam Inflasi?

55 NEWS – Jakarta – Di tengah gejolak harga energi global yang tak menentu, perbandingan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) antara Indonesia dan Malaysia menjadi sorotan utama bagi para pengamat ekonomi. Data terbaru menunjukkan bahwa harga BBM bersubsidi di Tanah Air masih menunjukkan daya saing yang kuat, bahkan relatif kompetitif jika disandingkan dengan negara tetangga, Malaysia. Pemerintah Indonesia hingga kini teguh mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar, sebuah langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dan daya beli masyarakat.

COLLABMEDIANET

Kebijakan ini tercermin dari stabilnya harga Pertalite yang tetap di level Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Ketetapan harga ini berlaku meskipun pasar energi dunia terus bergejolak, dan Pertamina sendiri telah melakukan penyesuaian harga pada produk BBM nonsubsidi sejak 10 Juni 2026. Sebagai contoh, harga Pertamax kini berada di Rp16.250 per liter, naik dari Rp12.300, sementara Pertamax Green merangkak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah dalam menyeimbangkan antara beban subsidi dan dinamika pasar tanpa membebani langsung konsumen BBM bersubsidi.

Jaga Kantong Rakyat di Tengah Badai Ekonomi Global: Menguak Fakta Mengejutkan Perbandingan Harga BBM Subsidi Indonesia dan Malaysia! Siapa Paling Efektif Redam Inflasi?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Untuk kategori BBM nonsubsidi lainnya, harga masih terpantau stabil. Pertamax Turbo dibanderol Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter. Stabilitas harga BBM subsidi ini merupakan instrumen krusial bagi pemerintah Indonesia untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan laju inflasi, terutama di sektor transportasi dan logistik yang memiliki efek domino terhadap harga barang dan jasa lainnya.

Di sisi lain, Malaysia juga menerapkan skema subsidi yang serupa untuk beberapa jenis BBM. Berdasarkan penetapan harga periode 11-17 Juni 2026, bensin RON95 bersubsidi melalui program BUDI95 ditetapkan sebesar RM1,99 per liter. Sementara itu, harga solar bersubsidi di Semenanjung Malaysia berada di angka RM2,15 per liter. Pemerintah Malaysia juga menggunakan Mekanisme Penetapan Harga Otomatis (Automatic Pricing Mechanism/APM) untuk menjaga stabilitas harga, dengan RON97 bertahan di RM4,35 per liter.

Menariknya, harga pasar RON95 di Malaysia sebelum subsidi tercatat RM3,72 per liter. Dengan adanya program BUDI95 yang efektif sejak 30 September 2025, konsumen dapat menikmati harga RON95 jauh di bawah nilai pasar. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua negara, baik Indonesia maupun Malaysia, sama-sama berupaya keras melindungi konsumen dari fluktuasi harga minyak mentah global melalui kebijakan subsidi yang terstruktur dan terukur.

Analisis 55tv.co.id menunjukkan bahwa meskipun dengan mekanisme dan nilai tukar yang berbeda, komitmen kedua negara dalam menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi patut diacungi jempol. Indonesia dengan Pertalite dan Biosolar, serta Malaysia dengan RON95 dan solar bersubsidi, sama-sama menjadikan BBM sebagai bantalan ekonomi untuk masyarakatnya. Ini menjadi bukti bahwa di tengah tekanan ekonomi global, pemerintah memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas dan daya beli rakyat, sekaligus menahan laju inflasi agar tidak melonjak tajam.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar