55tv.co.id – Badan Pengatur Jalan Tol BPJT Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat PUPR memastikan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak serta merta menyurutkan gairah investasi di sektor jalan tol. Namun fluktuasi mata uang ini berpotensi melambungkan ongkos pembangunan proyek yang pada akhirnya bisa memengaruhi besaran tarif perdana saat jalan tol mulai beroperasi.

Related Post
Sony Sulaksono Wibowo anggota BPJT dari unsur pemangku kepentingan menjelaskan bahwa pengaruh dolar AS sangat signifikan terhadap biaya konstruksi. Semakin lama proses pembangunan berlangsung maka biaya yang harus dikeluarkan akan semakin membengkak. Situasi ini menjadi tantangan serius bagi badan usaha jalan tol BUJT.

Saat mengikuti proses lelang investor telah menetapkan proyeksi tarif awal berdasarkan perhitungan biaya konstruksi. Namun jika pembangunan molor atau biaya membengkak karena faktor eksternal seperti pelemahan rupiah atau lambatnya pembebasan lahan perhitungan keekonomian proyek akan berubah drastis.
Kondisi ini menimbulkan kegelisahan karena tarif awal yang sudah dikunci saat tender mungkin perlu disesuaikan ketika jalan tol siap digunakan. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga kelayakan finansial proyek di tengah kenaikan biaya yang tak terduga.
Meskipun demikian sejumlah proyek strategis tetap berjalan sesuai jadwal. Sony menyebutkan beberapa di antaranya seperti Tol Bogor-Serpong via Parung yang kontraknya telah diteken Tol Probolinggo-Banyuwangi Probowangi yang kini memasuki tahap konstruksi serta beberapa proyek vital di Pulau Sumatera.








Tinggalkan komentar