55 NEWS – Langkah strategis yang berpotensi mengubah peta perdagangan global telah diambil. Indonesia dan Amerika Serikat (AS) secara resmi mengesahkan perjanjian bilateral bersejarah, Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kesepakatan yang ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump ini menetapkan tarif resiprokal sebesar 19 persen. Namun, yang mengejutkan, perjanjian ini memberikan keistimewaan tarif hingga 0 persen bagi ribuan produk unggulan Indonesia, termasuk komoditas vital seperti sawit dan kopi. Perjanjian revolusioner ini dijadwalkan mulai berlaku efektif dalam waktu 90 hari, terhitung setelah proses hukum dan konsultasi internal di masing-masing negara rampung.

Related Post
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers virtual yang disiarkan 55tv.co.id pada Jumat (20/2/2026), menjelaskan bahwa penandatanganan ART ini merupakan puncak dari pertemuan bilateral yang intens antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump. "Hari ini Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani ART dengan Pak Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump dalam pertemuan bilateral yang berjalan cukup lama, selama 30 menit sesudah kegiatan Board of Peace," ungkap Airlangga, menyoroti pentingnya momen tersebut.

Keberhasilan diplomasi ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari upaya maraton yang dilakukan pemerintah Indonesia sejak April 2025. Tercatat, delegasi Indonesia telah melakoni tujuh putaran perundingan dan lebih dari 19 kali pertemuan teknis yang alot dengan pihak United States Trade Representative (USTR). Negosiasi yang gigih ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi nasional di kancah internasional.
Airlangga juga menyoroti keistimewaan ART ini dibandingkan perjanjian dagang AS dengan negara lain. "Perjanjian ini murni berfokus pada kerja sama ekonomi, tanpa melibatkan isu-isu sensitif lainnya," tegasnya. Ia menambahkan, negosiasi dengan United States Trade Representative (USTR) dan Duta Besar Jameson-Greer membuahkan hasil signifikan, di mana AS sepakat untuk menurunkan tarif resiprokal bagi Indonesia dan menghapus pasal-pasal yang tidak relevan dengan esensi kerja sama ekonomi. Ini menandakan pengakuan AS terhadap potensi ekonomi Indonesia dan komitmen untuk membangun kemitraan yang setara dan saling menguntungkan. Kesepakatan ini diprediksi akan memberikan dorongan signifikan bagi daya saing produk-produk unggulan Indonesia di pasar AS, membuka peluang ekspor yang lebih luas, dan berpotensi meningkatkan devisa negara serta menciptakan lapangan kerja.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar