55tv.co.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan instruksi tegas kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero untuk mempercepat proses pengadaan armada kereta rel listrik (KRL) baru. Langkah ini diambil guna menjawab kebutuhan transportasi publik yang terus melonjak, terutama di wilayah penyangga ibu kota yang sangat bergantung pada moda transportasi berbasis rel ini.

Related Post
Direktur Jenderal Perkeretaapian, Allan Tandiono, menekankan pentingnya realisasi pengadaan 35 trainset yang telah ditugaskan melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) sejak tahun 2023 lalu. Menurutnya, penambahan armada ini bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang secara signifikan.

"Kami mengimbau PT KAI untuk segera mempercepat pengadaan trainset. Kami juga mendorong agar rangkaian yang didatangkan memiliki jumlah gerbong yang lebih panjang. Dengan rangkaian yang lebih panjang, kapasitas angkut dalam satu kali perjalanan akan meningkat, sehingga penumpukan penumpang dapat diminimalisir," ujar Allan saat memberikan keterangan di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Jika menilik rekam jejak pendanaan, PT KAI telah menerima suntikan dana PMN yang cukup besar untuk mendukung berbagai proyek strategis nasional. Total dana yang dialokasikan sejak periode 2023 hingga 2026 mencapai Rp8,5 triliun. Sebagai gambaran, pada tahun 2023, PT KAI menerima Rp3,2 triliun yang sebagian dialokasikan untuk penyelesaian proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB). Selanjutnya, pada tahun 2024, perusahaan menerima Rp2 triliun, diikuti Rp1,8 triliun pada 2025, dan Rp1,5 triliun pada 2026.
Terkait progres pengadaan 35 trainset yang ditargetkan, Allan memaparkan bahwa saat ini statusnya sudah berjalan namun belum mencapai target penuh. Dari total tugas tersebut, sebanyak 11 trainset telah diimpor dari China. Sementara itu, 16 unit lainnya diproduksi oleh PT INKA, di mana 7 unit sudah mulai beroperasi dan 9 unit masih dalam proses produksi.
"Saat ini, PT KAI masih kekurangan 8 trainset lagi untuk memenuhi target 35 unit yang ditugaskan sejak 2023. Kami mendorong agar 8 unit ini segera diadakan. Kita semua tahu kondisi di lapangan dan di stasiun, kebutuhan akan tambahan armada ini sangat mendesak demi kenyamanan masyarakat," tambah Allan.
Satu hal yang menjadi poin krusial dalam instruksi Kemenhub ini adalah jenis armada yang dibeli. Allan menegaskan bahwa pengadaan ini harus berupa rangkaian kereta baru, bukan membeli unit bekas yang sudah berumur puluhan tahun. Penggunaan kereta baru dinilai jauh lebih efisien karena memiliki masa pakai yang lebih panjang dan biaya perawatan yang lebih terukur dibandingkan kereta bekas.
Dengan percepatan pengadaan ini, diharapkan masalah kepadatan penumpang di jam-jam sibuk dapat teratasi, sekaligus memperkuat layanan transportasi massal yang modern dan andal bagi masyarakat luas.










Tinggalkan komentar