55 NEWS – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas, memicu kekhawatiran global akan potensi gangguan pasokan energi. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan yang belum dikonfirmasi, sebuah langkah yang dapat memicu krisis energi global.

Related Post
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran vital yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar dunia. Lebih dari seperlima atau sekitar 20% dari total pasokan minyak mentah dunia melewati selat ini setiap hari. Penutupan jalur ini akan berdampak signifikan terhadap harga minyak dunia, mengganggu rantai pasokan energi global, dan berpotensi memicu inflasi di berbagai negara.

Iran memiliki beberapa opsi untuk menutup Selat Hormuz, mulai dari menempatkan ranjau laut hingga mengerahkan pasukan militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk menyerang kapal-kapal yang melintas. Strategi ini bukan hal baru bagi Iran, yang telah beberapa kali menunjukkan kemampuannya untuk mengganggu lalu lintas maritim di kawasan tersebut.
Selat Hormuz memiliki sejarah panjang sebagai titik panas geopolitik. Selama perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, selat ini menjadi arena "Perang Tanker" yang merusak. Pada tahun 2007, angkatan laut Iran dan AS terlibat dalam insiden yang meningkatkan ketegangan. Pada April 2023, Iran menyita kapal tanker Advantage Sweet yang disewa oleh Chevron di Teluk Oman, yang baru dibebaskan setahun kemudian.
Kehadiran militer AS di kawasan Teluk biasanya bertindak sebagai penyeimbang, berusaha untuk memastikan kebebasan navigasi dan melindungi kepentingan ekonomi global. Namun, efektivitas intervensi AS dalam mencegah gangguan jangka panjang masih menjadi pertanyaan. Dampak dari penutupan Selat Hormuz terhadap pasokan energi global bisa sangat besar dan berpotensi memicu gejolak ekonomi di seluruh dunia.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar