55tv.co.id – Industri maritim Indonesia tengah memasuki babak baru dalam upaya meningkatkan efisiensi operasional dan transparansi distribusi energi. PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) secara resmi mengumumkan penguatan sistem pengawasan konsumsi serta distribusi bahan bakar minyak (BBM) kapal melalui integrasi teknologi digital yang mutakhir. Langkah strategis ini diambil untuk meminimalisir celah kesalahan manusia serta memastikan setiap tetes bahan bakar yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan secara akurat.

Related Post
Selama ini, proses pencatatan penggunaan bahan bakar atau bunker di atas kapal sering kali menghadapi tantangan terkait akurasi data. Dengan beralih ke sistem digital, PTK berupaya menutup celah ketidaksesuaian data yang selama ini menjadi kendala dalam manajemen logistik laut. Digitalisasi ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai pola konsumsi energi pada armada kapal.

Direktur Operasi PTK, Yudi Wibisono, menjelaskan bahwa urgensi dari penerapan teknologi ini terletak pada kebutuhan akan data yang valid dan real-time. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan efisiensi operasional secara menyeluruh.
"Implementasi sistem ini dirancang untuk memberikan informasi konsumsi bunker yang jauh lebih akurat. Dengan adanya sistem ini, proses monitoring data menjadi jauh lebih mudah, sehingga seluruh kegiatan operasional pengisian bahan bakar dapat berjalan dengan lebih tepat sasaran dan efisien," ujar Yudi dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Secara teknis, sistem digital yang diterapkan mencakup berbagai parameter krusial dalam operasional kapal. Salah satu fitur utamanya adalah pencatatan otomatis terhadap remain on board (ROB) atau sisa bahan bakar yang masih tersedia di dalam tangki kapal. Selain itu, sistem ini juga mengintegrasikan vessel daily report (VDR) yang diperbarui setiap hari untuk memantau aktivitas kapal secara kontinu.
Lebih mendalam lagi, teknologi ini mampu membedakan konsumsi bahan bakar pada mesin utama (main engine) dan mesin bantu (auxiliary engine). Pemisahan data ini sangat penting karena konsumsi bahan bakar akan sangat bergantung pada jenis pergerakan kapal serta intensitas aktivitas operasional yang sedang dilakukan di tengah laut.
Tidak hanya berhenti pada pencatatan konsumsi, sistem digital ini juga merevolusi cara pengawasan kegiatan bunker handling. Jika sebelumnya proses ini banyak dilakukan secara manual yang rentan terhadap kesalahan input, kini seluruh rangkaian proses dapat dipantau secara digital. Pengawasan mencakup data volume bunker, posisi presisi kapal saat proses pengiriman (delivery) maupun pengembalian (redelivery), hingga pengawasan ketat melalui mekanisme bunker pit.
Dengan adanya pengawasan digital yang ketat ini, PTK optimis dapat menekan risiko kerugian akibat ketidakefisienan penggunaan bahan bakar serta memperkuat standar keamanan dalam distribusi energi di sektor maritim nasional. Langkah ini menjadi sinyal positif bagi industri pelayaran dalam mengadopsi prinsip tata kelola perusahaan yang baik berbasis teknologi.










Tinggalkan komentar