55tv.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengintegrasikan hasil budi daya perikanan lokal ke dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus utama saat ini diarahkan pada Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih agar mampu menyediakan pasokan ikan, khususnya komoditas lele dan nila, dalam bentuk produk olahan yang siap masak.

Related Post
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa kunci keberhasilan dalam menyuplai kebutuhan program besar ini terletak pada nilai tambah produk. Menurutnya, sekadar menjual ikan segar tidaklah cukup. Koperasi harus mampu melakukan hilirisasi dengan mengolah hasil panen menjadi produk yang praktis, aman dikonsumsi, dan memiliki standar mutu yang tinggi sesuai permintaan pasar.

"Komoditas hasil budi daya ikan darat tematik yang sedang dikembangkan KKP, seperti lele dan nila, harus dikelola menjadi produk bernilai tambah. Produk tersebut wajib bermutu, aman, dan bentuknya sesuai dengan kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jika standar ini terpenuhi, para pembeli atau offtaker, termasuk dapur SPPG, akan sangat tertarik untuk menyerap hasil produksi koperasi secara berkelanjutan," ujar Trenggono dalam keterangan resminya di Jakarta.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya KKP dalam memperkuat ekonomi desa melalui sistem budi daya berbasis teknologi bioflok. Saat ini, KKP telah mengembangkan budi daya ikan darat di 100 lokasi Kopdes Merah Putih yang tersebar di wilayah Pulau Jawa. Untuk memastikan hasil panen tersebut memiliki kepastian pasar, KKP secara aktif mempertemukan para pengelola koperasi dengan berbagai calon pembeli potensial, mulai dari sektor perhotelan, restoran, ritel, hingga jasa boga.
Hasil dari upaya jemput bola ini mulai menunjukkan dampak positif. Tercatat, telah muncul 15 surat minat atau Letter of Interest (LoI) dari berbagai pihak. Bahkan, telah terjalin dua perjanjian kerja sama konkret untuk penjualan produk olahan lele siap masak antara Kopdes Merah Putih dengan SPPG yang berlokasi di Kudus dan Rembang, Jawa Tengah.
Senada dengan Menteri Trenggono, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, menambahkan bahwa sektor jasa boga dan SPPG merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan utamanya adalah adaptasi produk.
"Kami ingin unit usaha pengelola koperasi tidak hanya berhenti pada kemampuan memproduksi ikan saja, tetapi juga harus mampu menghasilkan produk olahan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik konsumen, seperti hotel dan jasa boga," pungkas Erwin. Dengan adanya integrasi ini, diharapkan kemandirian pangan tingkat desa dapat terwujud sekaligus memperkuat ketahanan gizi nasional.








Tinggalkan komentar