Menteri Bahlil Bocorkan Bioetanol Tak Perlu Dana Talangan

Menteri Bahlil Bocorkan Bioetanol Tak Perlu Dana Talangan

55tv.co.id – Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan bahwa program bioetanol, yang direncanakan mulai dicampur ke bensin E10 pada tahun 2027, saat ini belum memerlukan suntikan dana kompensasi dari pemerintah. Menurut Bahlil, di tengah gejolak harga minyak global yang terus merangkak naik, harga bioetanol justru menunjukkan daya saing tinggi dibandingkan dengan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

COLLABMEDIANET

Bahlil menjelaskan bahwa bioetanol diproduksi dari tiga bahan dasar utama, yaitu jagung, singkong, dan tebu. Khusus untuk tebu, bahan baku yang dimanfaatkan adalah molase, produk sampingan yang selama ini kerap dipandang berdaya jual rendah. Pemerintah bertekad memastikan harga bahan baku ini tetap menguntungkan para petani, sehingga mereka semangat dalam memproduksi.

Menteri Bahlil Bocorkan Bioetanol Tak Perlu Dana Talangan
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Saat ini, harga molase berada di kisaran Rp1.000 per kilogram, sementara harga bioetanol sendiri sekitar Rp11.000 per liter. Bandingkan dengan harga bensin nonsubsidi yang masih bertengger di kisaran Rp16.000 per liter. Dengan selisih harga yang cukup signifikan ini, Bahlil optimis penggunaan bioetanol sangat kompetitif dan belum butuh dana subsidi untuk menutup disparitas harga. "Kalau etanolnya di Rp11.000 kemudian harga bensin sekarang Rp16.000, berarti kan ada selisih. Itu mungkin tidak ada dana talangan," ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM baru-baru ini.

Namun, Bahlil tidak menampik bahwa skema insentif tetap wajib disiapkan. Hal ini sebagai antisipasi jika di kemudian hari harga minyak mentah global anjlok drastis, menyebabkan harga bensin nonsubsidi berada di bawah harga bioetanol. Dalam skenario tersebut, pemerintah akan merancang formula khusus untuk menutupi perbedaan harga, demi keberlanjutan program pencampuran bioetanol. "Tetapi ketika harga minyak dunia turun, contoh menjadi Rp9.000 atau Rp10.000, etanolnya Rp11.000, berarti akan ada selisih. Nah, ini yang kita akan membuat satu formulasi yang baik untuk kepentingan industri, petani, dan negara," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar