55 NEWS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih panjang dan intensif, khususnya di kawasan barat dan selatan Indonesia. Menanggapi potensi ancaman ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menyiapkan langkah antisipatif dengan mendorong implementasi manajemen air sawah yang lebih efisien demi menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

Related Post
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan komitmen pemerintah untuk menggalakkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD). Teknik inovatif ini diklaim mampu memangkas penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa mengorbankan tingkat produktivitas padi. "Pengelolaan air merupakan elemen krusial dalam menentukan keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat esensial untuk memitigasi risiko kekeringan sekaligus menjaga stabilitas produktivitas," ujar Mentan Amran, seperti dilansir 55tv.co.id pada Sabtu (28/3/2026).

Metode AWD memungkinkan para petani untuk mengaplikasikan air secara terukur, memastikan tanaman padi tetap tumbuh optimal meskipun dihadapkan pada kondisi pasokan air yang terbatas. Ini adalah pendekatan cerdas untuk memaksimalkan setiap tetes air dan mengurangi pemborosan.
Fadjry Djufry, Kepala BRMP, menambahkan bahwa teknologi ini dirancang sebagai solusi adaptif yang tangguh dalam menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau ekstrem. "Dengan pengaturan air yang presisi, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap prima sekaligus mengurangi ketergantungan pada sistem penggenangan terus-menerus, sehingga mereka lebih siap menghadapi ancaman kekeringan," jelasnya. Teknologi AWD sendiri awalnya dikembangkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) pada tahun 2009 dan mulai diimplementasikan di Indonesia sejak tahun 2013, menandai langkah maju dalam praktik pertanian berkelanjutan.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar