55 NEWS – Volatilitas ekstrem di pasar modal Indonesia, yang tercermin dari fluktuasi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam periode mingguan, bulanan, hingga tahunan, ternyata bukan fenomena tunggal. Sebuah analisis mendalam mengungkapkan bahwa tren serupa juga melanda setidaknya 11 bursa saham global lainnya, mulai dari Rusia, Hong Kong/Tiongkok, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Republik Ceko, Islandia, hingga Kuwait. Namun, yang paling menarik perhatian para ekonom adalah fakta bahwa banyak dari negara-negara yang bursa sahamnya merosot ini justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang impresif.

Related Post
Ekonom InFast, Bestari Gede Sandra, dalam catatannya pada Kamis (25/6/2026), membeberkan data penurunan bursa saham yang cukup signifikan. Secara mingguan, lima bursa dengan koreksi terdalam dipimpin oleh bursa saham Rusia (MOEX) yang anjlok 9,72%. Disusul kemudian oleh bursa Afrika Selatan (SA40) dengan penurunan 6,02%, dan IHSG Indonesia (JCI) yang terperosok 5,42%. Bursa Hong Kong/Tiongkok (HK50) juga tak luput dari tekanan, turun 3,7%, sementara bursa Maroko (MASI) terkoreksi 1,4%.

Tren pelemahan ini berlanjut dalam skala bulanan. Bursa saham Rusia (MOEX) kembali menjadi yang terdepan dengan penurunan mencapai 13,65%. Diikuti oleh bursa Hong Kong (HK50) yang merosot 8,54%, bursa Islandia (ICEX) anjlok 7,19%, bursa Afrika Selatan (SA40) turun 6,02%, dan IHSG Indonesia (JCI) yang melemah 5,2%.
"Secara tahunan, IHSG Indonesia (JCI) mencatat penurunan paling dalam hingga 31,95%. Ini diikuti oleh bursa saham Rusia (MOEX) yang turun 18,91%, bursa Hong Kong/Tiongkok (HK50) sebesar 8,66%, bursa India (NIFTY50) 8,07%, dan bursa Islandia (ICEX) 7,7%," terang Gede.
Namun, di balik angka-angka merah di papan bursa, Gede Sandra menyoroti sebuah paradoks ekonomi yang mencolok. Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi riil atau Produk Domestik Bruto (PDB/GDP), sebagian besar negara yang mengalami koreksi saham tersebut justru menunjukkan angka pertumbuhan di atas rata-rata dunia yang berada di kisaran 3,2%. Fenomena ini mengindikasikan adanya divergensi antara sentimen pasar saham dan fundamental ekonomi makro.
Pengecualian signifikan terjadi pada Rusia yang mengalami kontraksi ekonomi sebesar 0,2% dan Afrika Selatan yang hanya tumbuh 1,9%. Di luar kedua negara ini, daftar negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang bursa sahamnya melemah cukup mengejutkan. India, misalnya, mencatatkan pertumbuhan ekonomi riil yang mencapai 7,8% pada kuartal I 2026. Indonesia juga tidak kalah cemerlang dengan pertumbuhan 5,6% pada periode yang sama, diikuti oleh Tiongkok yang tumbuh 5,0%, dan Maroko sebesar 5%.
Dinamika ini menimbulkan pertanyaan besar bagi para investor dan pembuat kebijakan: mengapa pasar saham global bereaksi negatif, bahkan ketika fondasi ekonomi riil di banyak negara justru menguat? Analisis ini menegaskan bahwa investor perlu melihat lebih dari sekadar angka pertumbuhan PDB, dan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti inflasi, kebijakan moneter, atau ketidakpastian geopolitik yang mungkin memengaruhi valuasi pasar.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar