55tv.co.id – Dunia pendidikan tinggi di Indonesia didesak untuk segera melakukan revolusi dalam kurikulum bisnisnya. Tujuannya jelas agar para lulusan tidak hanya siap menghadapi tantangan industri yang terus berubah, tetapi juga mampu beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan. Tanpa perubahan mendasar ini, kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja akan semakin melebar.

Related Post
Ignasius Jonan, seorang pengamat pendidikan dan praktisi, menekankan pentingnya peran profesional berpengalaman dalam lingkungan akademik. Menurutnya, setidaknya sepertiga dari tenaga pengajar, khususnya di jenjang pascasarjana, harus berasal dari kalangan praktisi yang relevan dengan dinamika industri terkini. Para profesional ini bisa menjadi dosen utama atau asisten pengajar, membawa perspektif dunia nyata langsung ke ruang kelas. Lebih lanjut, Jonan juga menyoroti urgensi peningkatan kesejahteraan tenaga kependidikan sebagai pilar utama dalam menjaga mutu pendidikan.

"Sistem pendidikan yang berkualitas tinggi tidak akan pernah terwujud tanpa dukungan kesejahteraan yang memadai bagi para pengelolanya. Jika pendapatan dan kompensasi tidak mendukung, mustahil mencapai standar kualitas yang ditargetkan," tegas Jonan. Ia mencontohkan London Business School sebagai salah satu acuan global dalam tata kelola dan kualitas pendidikan bisnis yang patut dipelajari.
Senada dengan Jonan, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menambahkan bahwa transformasi kurikulum harus berfokus pada peningkatan daya saing lulusan dan penajaman kemampuan interpersonal atau soft skills. Di era kecerdasan buatan yang memudahkan akses informasi dan teori, kemampuan seperti berpikir kritis, adaptabilitas, dan komunikasi menjadi semakin krusial bagi setiap individu yang memasuki dunia kerja. Lulusan yang hanya mengandalkan pengetahuan teknis akan tertinggal jika tidak dibekali dengan kecakapan non-teknis yang kuat.










Tinggalkan komentar