55 NEWS – Ketegangan geopolitik yang meningkat antara Israel dan Iran berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga mencapai level USD80-USD100 per barel. Konflik yang melibatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di kedua negara ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, dan membuka peluang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai negara.

Related Post
Eskalasi konflik ditandai dengan serangan Israel terhadap situs migas di South Pars, Iran, yang dibalas Teheran dengan menyerang fasilitas minyak utama Israel di Haifa. Kebakaran dilaporkan terjadi di Pelabuhan Kangan, Iran, akibat serangan pesawat nirawak yang menargetkan Fase 14 ladang minyak dan gas South Pars, salah satu situs gas terbesar di dunia. Kantor berita Fars melaporkan bahwa "Fase 14 ladang gas South Pars menjadi sasaran serangan dari rezim Zionis," dan mengakibatkan kebakaran yang sedang ditangani oleh petugas pemadam kebakaran.

Selain itu, jet tempur Israel juga dilaporkan menyerang depot minyak di Teheran, seperti yang dilaporkan oleh Kementerian Perminyakan Iran melalui kantor berita IRNA. Video yang beredar di media sosial menunjukkan kobaran api besar di kilang minyak di ibu kota Iran.
Analis dari Capital Economics memperingatkan bahwa jika fasilitas produksi dan ekspor minyak Iran menjadi sasaran, harga minyak mentah Brent dapat melonjak signifikan. Namun, mereka juga mencatat bahwa lonjakan harga ini berpotensi mendorong produsen minyak lain untuk meningkatkan produksi, yang pada akhirnya dapat membatasi kenaikan harga dan dampak inflasi.
Juru bicara badan otomotif Inggris RAC, Rod Dennis, menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bensin. "Ada dua faktor utama yang berperan, apakah harga bahan bakar grosir yang lebih tinggi akan bertahan selama beberapa hari mendatang dan, yang terpenting, jenis margin yang diputuskan pengecer," ujarnya.
Dalam skenario terburuk, Iran dapat mengganggu pasokan jutaan barel minyak per hari jika menargetkan infrastruktur atau pengiriman di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pengiriman vital yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia.
Saul Kavonic, kepala penelitian energi di MST Financial, menekankan bahwa pasar perlu memperhitungkan potensi eskalasi konflik. "Apa yang kita lihat sekarang adalah reaksi risiko awal. Namun selama satu atau dua hari ke depan, pasar perlu memperhitungkan ke mana hal ini dapat meningkat," katanya. Dunia kini menanti perkembangan selanjutnya dari konflik ini dan dampaknya terhadap pasar energi global. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui 55tv.co.id.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar