55 NEWS – Asosiasi maskapai penerbangan nasional, Indonesia National Air Carriers Association (INACA), secara resmi mendesak pemerintah untuk segera menyesuaikan tarif penerbangan domestik. Desakan ini muncul di tengah tekanan biaya operasional yang kian membengkak, imbas langsung dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Related Post
Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, menegaskan bahwa gejolak konflik di kawasan tersebut telah memicu gelombang ketidakpastian ekonomi global. Implikasinya terasa langsung pada sektor aviasi, di mana kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi dua faktor dominan yang mendorong lonjakan signifikan biaya operasional maskapai.

"Mayoritas komponen biaya operasional maskapai kami menggunakan denominasi dolar AS, sementara pendapatan utama kami dalam rupiah. Kondisi disparitas ini secara fundamental semakin membebani neraca keuangan maskapai nasional," jelas Bayu, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima 55tv.co.id pada Kamis (26/3/2026).
INACA merinci, per Maret 2026, harga minyak global telah melonjak drastis sekitar 57 persen, dari sebelumnya sekitar 70 dolar AS per galon menjadi menembus angka 110 dolar AS per galon. Kenaikan ini secara langsung memicu lonjakan harga avtur di pasar domestik, yang kini berkisar antara Rp14.000 hingga Rp15.500 per liter. Angka ini merepresentasikan kenaikan hampir 50 persen dibandingkan kondisi tahun 2019. Ditambah lagi, nilai tukar Rupiah yang kini menyentuh level psikologis sekitar Rp17.000 per dolar AS semakin memperparah tekanan finansial, mengingat sekitar 70 persen dari total komponen operasional maskapai sangat bergantung pada mata uang asing.
Dampak dari konflik geopolitik ini tidak hanya terbatas pada fluktuasi harga bahan bakar. Operasional penerbangan internasional juga turut merasakan imbasnya. Sejumlah maskapai terpaksa melakukan pengalihan rute penerbangan guna menghindari wilayah udara yang berpotensi konflik di Timur Tengah dan Eropa. Konsekuensinya, jarak tempuh penerbangan menjadi lebih panjang, yang secara otomatis meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional secara keseluruhan.
Lebih lanjut, gangguan pada rantai pasok suku cadang pesawat juga memperburuk situasi. Waktu pengiriman spare parts yang sebelumnya hanya memakan waktu 2 hingga 3 hari, kini bisa molor hingga 7 sampai 10 hari, disertai dengan peningkatan biaya logistik yang signifikan. Kombinasi dari faktor-faktor ini menciptakan badai sempurna bagi industri penerbangan nasional, yang menuntut respons cepat dari pemerintah untuk menjaga keberlangsungan operasional dan konektivitas udara di Indonesia.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar