55 NEWS – Jakarta – Sebuah langkah revolusioner dalam peta jalan energi nasional telah terukir. Indonesia dan Republik Korea Selatan resmi menjalin kemitraan strategis melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang ambisius di Seoul. Kesepakatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi untuk mentransformasi anjungan minyak dan gas bumi (migas) lepas pantai pascaoperasional menjadi pilar energi masa depan, sekaligus memperkuat ketahanan energi kedua negara.

Related Post
MoU yang diberi judul ‘Cooperation in the Field of Offshore Plant Service Industry’ ini diteken langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, dan Menteri Samudra dan Perikanan Republik Korea, Hwang Jongwoo. Momen bersejarah ini disaksikan langsung oleh dua kepala negara, Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Republik Korea Lee Jae Myung, di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, menandakan komitmen tingkat tertinggi dari kedua belah pihak.

Secara substansi, kesepakatan ini merangkum spektrum kerja sama teknis yang luas dalam industri jasa instalasi di perairan. Fokus utamanya adalah pengelolaan komprehensif anjungan lepas pantai yang telah memasuki fase pascaoperasional, sebuah tantangan yang kini diubah menjadi peluang strategis bernilai ekonomi tinggi.
Menko Airlangga Hartarto, dalam keterangannya, menggarisbawahi bahwa kolaborasi ini dirancang dengan cakupan yang sangat luas. Ini mencakup pengembangan teknologi mutakhir, proses pembongkaran (decommissioning) yang efisien, hingga pemanfaatan kembali (reutilization) anjungan migas yang sudah tidak produktif. "MoU ini ditargetkan dapat memperkuat sinergi Indonesia dan Republik Korea dalam pengembangan industri jasa instalasi di perairan, termasuk dalam transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta pembongkaran dan pemanfaatan kembali anjungan lepas pantai pascaoperasional minyak dan gas bumi," jelas Airlangga, seperti dikutip 55tv.co.id pada Sabtu (4/4/2026).
Lebih jauh, Airlangga menegaskan bahwa inisiatif ini bukan hanya untuk entitas negara. Ia membuka lebar pintu bagi partisipasi aktif pelaku usaha nasional, mulai dari Pertamina Group hingga sektor swasta, untuk turut serta dalam proyek ambisius ini. Salah satu visi strategisnya adalah menyulap anjungan-anjungan lepas pantai eks-migas yang terbengkalai menjadi pusat infrastruktur energi hijau yang inovatif.
Potensi pemanfaatan kembali anjungan-anjungan ini sangat menjanjikan. Airlangga memaparkan bahwa lokasi-lokasi tersebut direncanakan dapat bertransformasi menjadi Terminal Penerima LNG (LNG Receiving Terminal) yang vital, serta fasilitas Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) yang krusial dalam upaya dekarbonisasi. "Dan hal ini terbuka bagi para pelaku industri energi nasional," pungkas Airlangga, menggarisbawahi inklusivitas proyek ini bagi ekosistem energi domestik.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar