55 NEWS – Di balik kesederhanaan jam tangan kayu Pala Nusantara, tersimpan kisah inspiratif tentang bagaimana kreativitas mampu menjadi fondasi ekonomi baru Indonesia. Gian Cahyana, atau Kang Gian, sang pendiri, membuktikan bahwa ide sederhana yang digabungkan dengan kepedulian lingkungan dapat menghasilkan produk bernilai tinggi, bahkan menjadi souvenir utama di ajang KTT G20.

Related Post
Kisah Kang Gian adalah cerminan dari era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Dalam era ini, "pengetahuan" menjadi aset tak berwujud yang menggerakkan perekonomian melalui inovasi, kreativitas, keterampilan manusia, dan kearifan lokal. Digitalisasi, dengan akses pengetahuan yang meluas, menjadi faktor pendorong (enabler) untuk menciptakan peluang ekonomi baru melalui kreativitas.

Bank Dunia menekankan empat pilar utama ekonomi berbasis pengetahuan: rezim kelembagaan pro-inovasi, pendidikan dan keterampilan, infrastruktur digital, dan sistem inovasi. Negara harus mampu mengonversi ide menjadi produk dan merek di sektor riil, bukan hanya mengandalkan komoditas mentah. Dukungan negara terhadap riset menjadi krusial, meskipun belanja riset Indonesia masih kecil, yaitu kurang dari 1% PDB.
Ekonomi kreatif, seperti yang dicontohkan Kang Gian, menjadi jantung dari ekonomi berbasis pengetahuan. Sektor ini memiliki potensi besar dengan 27,4 juta pekerja (18% dari total pekerja). Ekonomi digital, dengan penetrasi internet mencapai 79,5% (221 juta pengguna), juga menjadi bagian tak terpisahkan. Pada tahun 2024, ekonomi digital diperkirakan mencapai Gross Merchandise Value (GMV) sekitar USD90 miliar, dengan e-commerce sebagai lokomotif.
Kinerja ekspor ekonomi kreatif juga menjanjikan. Pada semester I/2024, nilai ekspor mencapai USD12,36 miliar, didorong oleh fesyen dan kriya. Produk berbasis budaya dan desain memiliki pasar yang besar, asalkan kualitas dan kurasi terjaga. Tantangannya adalah membuat tren ini berkelanjutan dan meluas ke seluruh daerah.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar