55tv.co.id – Menjadi seorang pemimpin bukan berarti memiliki jawaban atas segala persoalan yang ada di dunia. Sebaliknya, esensi dari kepemimpinan yang efektif justru terletak pada kerendahan hati untuk membuka telinga dan menerima berbagai perspektif dari orang-orang di sekitarnya. Hal inilah yang ditegaskan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, dalam sebuah kesempatan yang penuh inspirasi.

Related Post
Luhut menyampaikan bahwa hambatan terbesar bagi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan yang tepat adalah sikap merasa paling benar. Menurutnya, ketika seorang pemimpin menutup diri dari masukan, ia secara tidak langsung sedang membangun tembok yang akan menghambat kemajuan organisasi maupun negara. Sikap merasa paling tahu segalanya justru menjadi bumerang yang bisa menjerumuskan pada kebijakan yang keliru.

Pesan mendalam ini disampaikan Luhut saat menghadiri pembukaan Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta pada Senin (28/9/2026). Dalam pidatonya, ia membagikan refleksi perjalanan hidupnya yang sangat panjang, mulai dari pengabdian sebagai prajurit TNI, peran sebagai diplomat, hingga menjabat sebagai menteri dan kini memimpin Dewan Ekonomi Nasional.
"Pemimpin itu harus mau mendengar. Kalau pemimpin tidak mau mendengar, ya repot. Apalagi jika pemimpin merasa dirinya adalah yang paling benar. Kita semua adalah manusia yang pasti memiliki kekurangan. Pasti ada sudut pandang atau angle tertentu yang tidak bisa kita lihat sendirian," ujar Luhut dengan lugas.
Ia menekankan bahwa keterbatasan manusiawi adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada satu pun individu, sehebat apa pun dia, yang mampu membedah seluruh kompleksitas permasalahan dari segala sisi tanpa bantuan pihak lain. Oleh karena itu, kemampuan untuk menyerap informasi dan mendengarkan pendapat orang lain adalah keterampilan krusial yang harus dimiliki oleh setiap pemegang kebijakan.
Menariknya, Luhut juga mengungkapkan sebuah rahasia di balik berbagai capaian besar yang selama ini ia raih selama bertugas di pemerintahan. Ia mengaku bahwa keberhasilan dalam menangani berbagai krisis, termasuk saat masa pandemi Covid-19 yang lalu, bukanlah hasil kerja keras individu semata. Ia justru banyak mengandalkan kecerdasan dan energi dari timnya yang mayoritas terdiri dari generasi muda.
"Banyak orang yang memuji keberhasilan dalam menangani Covid dan berbagai urusan lainnya. Sebenarnya, itu bukan karena kehebatan saya pribadi. Itu adalah hasil kerja anak-anak muda di sekitar saya. Tugas saya hanyalah mendengarkan mereka, menanyakan pendapat mereka, dan mengikuti arahan yang masuk akal," ungkapnya dengan rendah hati.
Melalui pernyataan ini, Luhut memberikan pelajaran berharga bagi para calon pemimpin masa depan bahwa kolaborasi dan inklusivitas adalah kunci utama. Kepemimpinan bukan tentang dominasi satu suara, melainkan tentang bagaimana menyatukan berbagai pemikiran untuk mencapai tujuan bersama. Dengan mendengarkan, seorang pemimpin tidak hanya mendapatkan solusi yang lebih komprehensif, tetapi juga membangun kepercayaan dan loyalitas dari tim yang dipimpinnya.








Tinggalkan komentar