55tv.co.id – Klaim pemerintah terkait Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RAPBN 2027 yang disebut ekspansif ternyata dinilai bertolak belakang dengan realitas indikator fiskal yang sesungguhnya. Alih-alih menjadi pendorong percepatan ekonomi secara optimal postur anggaran tahun depan justru memancarkan sinyal pengetatan yang kuat.

Related Post
Analisis mendalam menunjukkan adanya lonjakan penarikan utang yang jauh melampaui angka defisit serta akumulasi beban kuasi-fiskal yang tersembunyi di luar laporan neraca resmi APBN. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics CORE Indonesia M Faisal menegaskan arah kebijakan fiskal mendatang tidak mencerminkan karakteristik anggaran yang agresif dalam mendorong perekonomian nasional.

Berbagai indikator utama APBN justru memperlihatkan kecenderungan perlambatan pertumbuhan belanja diiringi pengetatan defisit yang signifikan. Faisal dalam keterangannya Sabtu 22 Agustus 2026 mengungkapkan meski disebut ekspansif seluruh indikator postur RAPBN 2027 justru mengarah pada pengetatan. Ini terlihat dari pertumbuhan belanja negara yang hanya mencapai 39 persen penyusutan defisit hingga Rp6712 triliun dan keseimbangan primer yang justru direncanakan lebih rendah.
Ironisnya celah fiskal paling signifikan justru mengintai dari pos-pos di luar perhitungan anggaran resmi atau off-budget. Beban-beban ini bersumber dari penugasan subsidi energi amanat investasi kepada Danantara serta lembaga Special Mission Vehicle SMV Kementerian Keuangan. Selain itu penyimpanan Saldo Anggaran Lebih SAL di bank-bank BUMN atau Himbara hingga skema pembagian beban bersama Bank Indonesia turut menjadi penyumbang beban tersembunyi tersebut.










Tinggalkan komentar