55tv.co.id – Draf Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RAPBN 2027 yang digodok pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menuai sorotan tajam dari kalangan ekonom. Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies Celios Nailul Huda secara blak-blakan menyebut postur anggaran tahun depan memuat indikator makro yang terlampau optimistis terutama terkait target penerimaan pajak yang dinilai abai terhadap tren perlambatan ekonomi domestik saat ini.

Related Post
Huda menggarisbawahi bahwa arah kebijakan fiskal tahun depan masih diwarnai oleh ketimpangan distribusi anggaran antara pusat dan daerah. Selain itu pemerintah dinilai menetapkan proyeksi penerimaan perpajakan tanpa antisipasi memadai terhadap potensi kemacetan pemasukan kas negara imbas siklus pengembalian pajak di periode transisi.

"Pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan mencapai angka fantastis Rp2.908 triliun dengan proyeksi pertumbuhan 10,5 persen. Angka ini menurut Huda sangatlah ambisius mengingat defisit penerimaan atau shortfall yang terjadi tahun ini sehingga target tahun depan berpotensi besar kembali meleset dari harapan" tegas Huda dalam keterangan tertulisnya.
Ancaman lain yang mengintai adalah potensi tergerusnya kas negara akibat pembayaran restitusi atau kelebihan bayar pajak pada masa peralihan tahun anggaran. Celios mengingatkan bahwa beban ini dapat memangkas signifikan realisasi pendapatan negara. Tak hanya itu performa ekspor komoditas utama dari sektor sumber daya alam juga diprediksi melemah. Hal ini merupakan konsekuensi langsung dari penerapan instrumen regulasi kepabeanan serta tata kelola sumber daya alam yang baru yang berpotensi menghambat kinerja industri hulu.










Tinggalkan komentar