Rp 101 Triliun Digelontorkan! Mampukah BUMN Tekstil Danantara Hentikan Banjir Impor dan Hidupkan Kembali Kejayaan Sritex? Kadin Beri Peringatan Keras!

Rp 101 Triliun Digelontorkan! Mampukah BUMN Tekstil Danantara Hentikan Banjir Impor dan Hidupkan Kembali Kejayaan Sritex? Kadin Beri Peringatan Keras!

55 NEWS – Kabar menggembirakan datang dari sektor industri nasional. Pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dikabarkan akan segera membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus tekstil, di bawah naungan Danantara. Inisiatif strategis ini digulirkan sebagai respons konkret terhadap berbagai tantangan pelik yang membelit industri tekstil dan garmen Tanah Air, termasuk pelajaran berharga dari kasus-kasus besar seperti yang menimpa PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).

COLLABMEDIANET

Menyambut wacana ini, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Saleh Husin, memberikan pandangannya. Menurut Saleh, pembentukan BUMN tekstil ini memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung penguatan industri nasional, asalkan fokus utamanya adalah membenahi akar permasalahan yang selama ini menghimpit sektor tersebut.

Rp 101 Triliun Digelontorkan! Mampukah BUMN Tekstil Danantara Hentikan Banjir Impor dan Hidupkan Kembali Kejayaan Sritex? Kadin Beri Peringatan Keras!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Saleh menegaskan, salah satu ‘penyakit kronis’ yang terus-menerus menggerogoti daya saing industri lokal adalah derasnya arus impor, baik yang berstatus legal maupun ilegal. Fenomena ini, lanjutnya, secara langsung membuat produk-produk tekstil dan garmen domestik sulit bersaing dari segi harga di pasar sendiri. Pernyataan ini disampaikan Saleh dalam keterangannya di Jakarta.

Dengan dukungan penuh dari negara dan kapasitas skala besar yang dimilikinya, BUMN tekstil ini diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menopang produksi domestik. Lebih jauh, ia bisa berperan vital dalam menjamin ketersediaan pasokan bahan baku lokal yang stabil dan berkualitas, sekaligus menekan biaya produksi melalui adopsi efisiensi energi dan teknologi mutakhir. Saleh menambahkan, entitas BUMN ini juga berpotensi menjadi pionir dalam penerapan mesin-mesin modern, pemanfaatan sumber energi yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan, serta pengembangan sistem kerja yang lebih produktif dan inovatif.

Keberhasilan implementasi visi ini, menurut Saleh, akan mengubah stigma industri tekstil dari sekadar ‘sunset industry’ menjadi sektor yang bertransformasi. Bukan lagi bergantung pada keunggulan upah tenaga kerja murah semata, melainkan berpijak pada pilar efisiensi, kualitas produk, dan kepastian pasar domestik yang kuat.

Saleh secara khusus menyoroti alokasi investasi pemerintah sebesar USD6 miliar, atau sekitar Rp101 triliun, yang diharapkan dapat difokuskan pada segmen hulu dan intermediate dalam rantai pasok industri tekstil. Ini mencakup produksi serat sintetis, benang, dan kain. Ia menjelaskan, ketergantungan masif pabrik garmen terhadap bahan baku impor selama ini disebabkan oleh terbatasnya atau mahalnya pasokan domestik. Kondisi ini, imbuhnya, menjadi bumerang ketika pasar dibanjiri produk impor murah, yang pada akhirnya semakin menekan eksistensi industri lokal.

Editor: Akbar soaks

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar