55tv.co.id – Pasar keuangan bergejolak hebat Jumat lalu saat mata uang Garuda terpaksa menyerah pada dominasi dolar Amerika Serikat sebuah pukulan telak yang membuat nilai tukar rupiah terkapar di level Rp17611 per dolar AS setelah merosot tajam 64 poin atau sekitar 036 persen para investor kini dihadapkan pada ketidakpastian besar.

Related Post
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai penjuru dunia khususnya gejolak di Timur Tengah. Ketegangan memuncak setelah Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz sebuah insiden yang segera dibalas oleh Amerika Serikat dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran.

Peristiwa mencekam ini menandai eskalasi konflik terparah dalam beberapa bulan terakhir tanpa ada tanda-tanda meredanya perseteruan yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Situasi ini memicu kekhawatiran global akan gangguan pasokan energi yang lebih luas.
Kekhawatiran semakin diperparah oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Laporan menyebutkan kelompok tersebut berhasil menguasai kota pelabuhan Mocha memperkuat posisi tawar mereka atas Selat Bab el-Mandeb. Houthi juga menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi serta melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Bab el-Mandeb dan infrastruktur energi Saudi.
Serangan Houthi di Bab el-Mandeb berpotensi besar memutus jalur utama suplai minyak Timur Tengah lainnya setelah Selat Hormuz. Kondisi ini secara langsung mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah global sebuah faktor yang semakin menekan mata uang negara importir minyak.
Dari sisi ekonomi Amerika Serikat data Indeks Harga Produsen PPI bulan Agustus menunjukkan kenaikan 04 persen secara bulanan sesuai ekspektasi pasar dan lebih tinggi dari kenaikan 01 persen di bulan Juli. Inflasi produsen tahunan melonjak menjadi 54 persen sedikit di atas perkiraan 53 persen dan meningkat dari angka sebelumnya 48 persen.
Secara tahunan inflasi produsen inti juga naik menjadi 46 persen dari 43 persen sesuai dengan ekspektasi. Angka-angka inflasi yang kuat ini menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka lebar memperkuat posisi dolar AS dan semakin menekan laju rupiah di tengah badai global.










Tinggalkan komentar