55tv.co.id – Perum Bulog tengah mengambil langkah strategis guna memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam mendukung sektor peternakan. Lembaga pangan negara ini berencana melakukan ekspansi besar-besaran melalui pembangunan gudang jagung baru di berbagai wilayah strategis di Indonesia. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan pasokan jagung bagi para peternak ayam tetap stabil dan terjaga.

Related Post
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa target utama dari proyek ini adalah menjamin ketersediaan stok jagung minimal sebesar 250 ribu ton setiap triwulan. Pasokan ini sangat krusial mengingat jagung merupakan komponen utama dalam pakan ternak yang sangat memengaruhi stabilitas harga daging ayam di pasar.

Saat ini, proses pembangunan infrastruktur tersebut sedang memasuki tahap lelang. Rizal menjelaskan bahwa penentuan lokasi gudang tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan difokuskan pada daerah-daerah yang menjadi sentra produksi jagung terbesar di tanah air.
"Prioritas utama kami adalah membangun di Gorontalo, disusul oleh Nusa Tenggara Barat (NTB), Lampung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain daerah prioritas tersebut, kami juga akan menyebar fasilitas ini ke provinsi lain yang memiliki potensi produksi tinggi, seperti Jawa Timur," ujar Rizal dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).
Tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan, gudang-gudang baru ini nantinya akan dilengkapi dengan teknologi modern. Bulog berencana mengintegrasikan fasilitas Corn Drying Center (CDC) serta mesin pengering (dryer) di setiap lokasi. Kehadiran teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen petani sekaligus menjaga kualitas jagung agar tidak mudah rusak akibat kadar air yang tinggi.
Dengan adanya fasilitas pengeringan yang mumpuni, Bulog berharap proses pengolahan jagung menjadi lebih optimal. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir risiko kerugian akibat penurunan kualitas pasca-panen, sehingga distribusi ke sektor peternakan dapat berjalan lancar tanpa kendala mutu.
Rizal menambahkan, langkah penguatan infrastruktur ini merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap keberlangsungan bisnis peternak ayam. "Tujuannya adalah untuk memberikan cadangan (backup) yang kuat. Kami ingin memastikan kebutuhan pengusaha peternak ayam terpenuhi secara konsisten, dengan target minimal 250 ribu ton per triwulan," tambahnya.
Meski demikian, Rizal memberikan catatan penting terkait tantangan di lapangan. Menurutnya, kendala utama Bulog selama ini bukan terletak pada kuantitas atau jumlah pembelian, melainkan pada standarisasi kualitas hasil panen dari petani. Bulog memiliki kapasitas besar untuk menyerap jagung, namun produk yang masuk harus memenuhi kriteria kualitas yang ketat agar layak digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.
Melalui integrasi antara pembangunan gudang modern dan peningkatan standar kualitas, Bulog optimistis dapat menciptakan ekosistem rantai pasok jagung yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi industri peternakan di Indonesia.








Tinggalkan komentar