55tv.co.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau yang lebih dikenal sebagai Danantara, kini tengah menyusun langkah strategis besar untuk membangkitkan kembali kejayaan industri tekstil nasional. Melalui rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus di sektor tekstil, lembaga ini berupaya menciptakan ekosistem manufaktur yang lebih tangguh dan kompetitif di pasar global.

Related Post
Langkah ambisius ini diambil sebagai respons langsung terhadap kondisi industri sandang dalam negeri yang tengah mengalami kelesuan. Pemerintah melihat bahwa sektor tekstil bukan sekadar urusan produksi pakaian, melainkan instrumen vital dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dalam skala masif.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa komitmen Danantara untuk masuk ke sektor ini sangatlah serius. Menurutnya, keberadaan BUMN tekstil nantinya akan didukung penuh oleh regulasi pemerintah guna memastikan terciptanya iklim industri yang sehat dan berkelanjutan.
"Danantara serius akan masuk ke sektor ini, tentu dengan dukungan penuh pemerintah serta regulasi yang ada demi menciptakan ekosistem industri yang sehat," ungkap Dony dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Rencana ekspansi ini bukan tanpa alasan. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden yang menekankan agar investasi negara diprioritaskan pada sektor-sektor padat karya. Sektor seperti tekstil, alas kaki (sepatu), hingga elektronik dianggap memiliki multiplier effect atau dampak berganda yang sangat nyata bagi masyarakat, terutama dalam membuka lapangan pekerjaan bagi jutaan orang.
Dony menjelaskan bahwa Presiden menginginkan sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar menjadi fokus utama. Dengan menghidupkan kembali pabrik-pabrik tekstil, pemerintah berharap dapat menekan angka pengangguran sekaligus memperkuat struktur manufaktur dasar di Indonesia.
Terkait teknis pelaksanaan, Danantara juga membuka opsi untuk menyelamatkan pabrik-pabrik eksisting yang saat ini sedang mengalami kesulitan operasional. Alih-alih hanya membangun dari nol, pemerintah mempertimbangkan skema restrukturisasi pada fasilitas produksi yang sudah ada agar dapat kembali beroperasi secara optimal.
Mengenai aspek pendanaan, Danantara menyatakan bahwa besaran modal yang akan dikucurkan akan bersifat fleksibel. Alokasi investasi tidak akan dipatok secara kaku, melainkan akan dihitung berdasarkan kebutuhan riil di lapangan. Hal ini mencakup biaya pembenahan fasilitas produksi, pembaruan teknologi, hingga penyusunan peta jalan (roadmap) pemulihan industri yang komprehensif.
Dengan adanya intervensi strategis dari Danantara, diharapkan industri tekstil nasional tidak hanya mampu bertahan dari gempuran produk impor, tetapi juga kembali menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas.








Tinggalkan komentar