55tv.co.id – Ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara kini menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius dari seluruh negara anggota. Menanggapi tantangan global yang semakin kompleks, PT Pertamina (Persero) secara tegas mendorong penguatan kolaborasi strategis antarnegara di kawasan ASEAN. Langkah ini dinilai sebagai kunci utama untuk menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari pengelolaan aset minyak dan gas bumi (migas) yang dinamis, kebutuhan investasi yang masif, hingga upaya menjaga keberlanjutan pasokan energi di masa depan.

Related Post
Pernyataan penting tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, dalam rangkaian agenda internasional 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE). Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di The Meru, Sanur, Bali pada Senin (26/10) tersebut mengusung tema besar Strengthening Resilience Through Collaboration. Tema ini mencerminkan urgensi bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi fluktuasi pasar energi global.

Dalam paparannya, Simon menekankan bahwa konsep ketahanan energi memiliki dimensi yang sangat luas. Menurutnya, ketahanan energi bukan sekadar kemampuan sebuah negara untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat saat ini, namun juga mencakup jaminan ketersediaan energi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
"Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung roda perekonomian, dan melayani generasi mendatang," ujar Simon di hadapan para delegasi internasional.
Lebih lanjut, Simon juga memperkenalkan filosofi Nusantara in Harmony sebagai representasi dari pentingnya sinergi di tengah keberagaman karakteristik negara-negara ASEAN. Ia mengibaratkan kerja sama antarnegara di kawasan ini layaknya sebuah pertunjukan orkestra yang megah. Dalam sebuah orkestra, setiap instrumen musik memiliki suara dan peran yang berbeda-beda, namun ketika dimainkan secara bersamaan dengan koordinasi yang tepat, mereka akan menghasilkan harmoni yang indah.
Hal yang sama berlaku dalam sektor energi. Setiap negara di ASEAN memiliki potensi sumber daya, kapasitas teknologi, dan kebutuhan yang berbeda. Namun, dengan adanya kolaborasi yang solid, perbedaan tersebut justru akan menjadi kekuatan untuk menciptakan stabilitas energi di kawasan.
Melalui forum ASCOPE ke-51 ini, Pertamina berharap dapat menjadi motor penggerak dalam mempererat hubungan antarperusahaan energi di Asia Tenggara. Dengan memperkuat investasi bersama dan berbagi teknologi dalam pengelolaan aset migas, kawasan ASEAN diharapkan mampu menjadi pemain yang lebih tangguh dalam peta energi global, sekaligus memastikan transisi energi yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat di kawasan ini.










Tinggalkan komentar