55tv.co.id – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan krusial sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Mengingat kontribusinya yang sangat masif, sinergi antara pemerintah dan sektor swasta kini menjadi kunci utama untuk mendorong para pelaku usaha lokal agar bisa "naik kelas" dan mampu bersaing di pasar internasional.

Related Post
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, menekankan bahwa penguatan kapasitas UMKM bukan sekadar agenda bisnis biasa, melainkan sebuah keharusan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Hal ini didasari oleh data yang menunjukkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta mampu menyerap hingga 97 persen tenaga kerja di Indonesia.

"Ketika UMKM naik kelas, maka secara otomatis perekonomian Indonesia juga akan ikut tumbuh pesat. Jika UMKM di Jakarta sukses, maka Indonesia pun akan ikut naik kelas," ujar Elisabeth dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Salah satu bentuk nyata dari kolaborasi lintas sektor ini terlihat melalui program pendampingan dan pelatihan intensif yang dijalankan oleh PT HM Sampoerna Tbk melalui Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC). Program ini menjadi bukti konkret bahwa keterlibatan perusahaan swasta dalam membangun ekosistem kewirausahaan dapat memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan bangsa.
Melalui program SETC-UUI 2026, Sampoerna menunjukkan komitmen jangka panjangnya dalam membina pengusaha lokal. Sejak didirikan pada tahun 2007, SETC telah berhasil melatih lebih dari 108.000 pengusaha UMKM. Tidak hanya sekadar pelatihan teori, program ini juga memfasilitasi penetrasi pasar ekspor, seperti membantu produk UMKM menembus pasar Jepang dan Tiongkok melalui kolaborasi dengan program WikiExport KADIN.
Selain pelatihan, kekuatan ekosistem ini juga diperkuat oleh kehadiran Sampoerna Retail Community (SRC). Program ini membina lebih dari 250.000 toko kelontong di seluruh Indonesia, yang mampu menghasilkan total omzet mencapai Rp251 triliun per tahun. Angka ini merupakan kontribusi yang sangat signifikan, yakni sekitar 9,46 persen terhadap PDB Ritel Nasional tahun 2025.
Pemerintah sendiri terus berupaya membuka jalan bagi UMKM melalui berbagai inisiatif, mulai dari kegiatan business matching hingga penyelenggaraan pameran internasional. Tujuannya jelas, yakni agar pelaku usaha lokal mendapatkan akses langsung kepada pembeli di luar negeri.
Namun, Elisabeth memberikan catatan penting bagi para pelaku UMKM. Ia berharap para pengusaha tidak hanya sekadar mengejar penjualan sesaat saat mengikuti pameran di luar negeri. Fokus utama yang harus dikejar adalah mendapatkan mitra atau pembeli (buyer) yang berkelanjutan.
"Yang kita cari dari ajang pameran di luar negeri itu adalah buyer yang berkelanjutan. Kita tidak ingin mereka hanya menjual semua produk yang dibawa, lalu pulang dengan koper kosong tanpa ada pesanan lanjutan," tegasnya.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah melalui kebijakan yang pro-UMKM serta pendampingan berkelanjutan dari sektor swasta, diharapkan UMKM Indonesia tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri, tetapi mampu menjadi pemain utama di pasar global.










Tinggalkan komentar