55 NEWS – JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara secara resmi memulai babak baru dalam upaya hilirisasi industri nasional. Sebuah proyek pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi, yang menggabungkan sektor pertanian dan energi, telah melakukan groundbreaking di Banyuwangi, Jawa Timur. Inisiatif strategis ini digadang-gadang mampu mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga Rp233 miliar, sekaligus menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia.

Related Post
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek ambisius ini merupakan bagian integral dari 18 program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah di seluruh penjuru negeri. Tujuan utamanya adalah menciptakan nilai tambah signifikan bagi perekonomian, baik melalui penciptaan lapangan kerja yang masif maupun peningkatan pendapatan negara secara berkelanjutan.

“Kami baru saja menorehkan langkah yang sangat krusial, bukan hanya dari perspektif investasi semata, melainkan juga dari dampak positifnya terhadap penyerapan tenaga kerja serta akselerasi pertumbuhan ekonomi regional dan nasional,” tegas Rosan dalam konferensi pers yang digelar di Wisma Danantara pada Jumat (6/2/2026) malam.
Melengkapi pernyataan tersebut, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, memaparkan detail teknis proyek. Pabrik bioetanol ini akan berdiri megah di atas lahan seluas 10 hektare. Inovasi utamanya terletak pada kemampuan pabrik untuk mengubah molase, yang merupakan produk sampingan dari proses produksi gula, menjadi bioetanol dengan kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter per tahun.
“Dengan adanya pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi ini, berkat kolaborasi erat antara Pertamina melalui unit Supporting New and Renewable Energy dan SGN, kita akan mampu menghasilkan 30.000 kiloliter etanol setiap tahun. Ini adalah langkah konkret yang akan secara signifikan mendorong swasembada energi nasional, didukung penuh oleh penguatan perekonomian rakyat,” jelas Agung.
Proyek ini tidak hanya sekadar pembangunan fasilitas industri, melainkan sebuah manifestasi nyata dari komitmen pemerintah dan BUMN dalam mendiversifikasi sumber energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Dengan produksi etanol yang substansial, Indonesia akan semakin dekat menuju target bauran energi terbarukan, sekaligus menghemat devisa negara yang selama ini terkuras untuk impor BBM.
Dampak ekonomi lokal di Banyuwangi juga diprediksi akan sangat besar, mulai dari penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar hingga peningkatan aktivitas ekonomi di sektor pertanian tebu yang menjadi pemasok molase. Ini adalah model pembangunan ekonomi sirkular yang berkelanjutan, memberikan nilai tambah dari hulu ke hilir. Langkah Danantara dan Pertamina di Banyuwangi ini menandai era baru dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia untuk kemandirian energi. Sebuah investasi strategis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat luas, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Editor: Akbar soaks




Tinggalkan komentar