55tv.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap kabar kurang menggembirakan terkait kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026. Setelah rentetan panjang periode surplus, kini neraca dagang kembali mencatat defisit sebesar USD450 juta. Ini menjadi sorotan tajam bagi perekonomian nasional.

Related Post
Tren negatif ini melanjutkan catatan defisit yang lebih besar, yakni USD1,61 miliar, pada bulan sebelumnya, Mei 2026. Fenomena ini sekaligus mengakhiri dominasi surplus neraca perdagangan yang telah bertahan kokoh selama 72 bulan berturut-turut, sebuah rekor impresif sejak Mei 2020.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, penyebab utama defisit pada Juni 2026 adalah tekanan dari sektor komoditas migas. Defisit migas yang mencapai USD3,49 miliar ini didominasi oleh impor hasil minyak dan minyak mentah yang melonjak signifikan.
Namun, tidak semua berita buruk. Di sisi lain, sektor non-migas menunjukkan performa positif dengan mencatatkan surplus signifikan sebesar USD3,04 miliar. Kontributor utama surplus non-migas ini meliputi lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Kinerja ekspor komoditas ini berhasil menopang neraca perdagangan agar tidak terperosok lebih dalam. Situasi ini menunjukkan adanya dinamika kompleks antara sektor migas dan non-migas dalam membentuk wajah neraca perdagangan Indonesia.










Tinggalkan komentar