55 NEWS – Tekanan finansial yang membelit proyek Kereta Cepat Whoosh tampaknya akan segera menemui titik terang. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa penyelesaian masalah utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) telah menjadi prioritas utama dan masuk dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2025.

Related Post
Dony menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah intensif melakukan penjajakan dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mencari solusi terbaik terkait utang dan potensi kerugian yang masih membayangi perusahaan patungan dengan China tersebut.

"Sedang kita lakukan penjajakan, tentu akan kita bereskan (utang kereta cepat) proses itu. Kemarin kan Direktur Utama KAI juga sudah menyampaikan di DPR, kita bereskan, masuk dalam RKAP kita tahun ini," ungkap Dony saat ditemui di Smesco, Jumat (22 Agustus 2025). Pernyataan ini memberikan angin segar di tengah kekhawatiran publik mengenai keberlanjutan proyek strategis nasional ini.
Beban utang PT KCIC memang menjadi perhatian serius, terutama di tengah pendapatan yang belum optimal. Meskipun demikian, terdapat sinyal positif dengan berkurangnya kerugian perusahaan. Pada semester I 2025, KCIC mencatatkan kerugian sebesar Rp1,6 triliun, menunjukkan penurunan dibandingkan kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,3 triliun. Penurunan ini mengindikasikan adanya upaya efisiensi dan peningkatan kinerja yang mulai membuahkan hasil.
Sebagai informasi, PT KCIC merupakan perusahaan hasil kolaborasi antara PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok, melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Kemitraan strategis ini diharapkan dapat membawa transfer teknologi dan keahlian dalam pengembangan infrastruktur perkeretaapian modern di Indonesia. Masyarakat menantikan realisasi janji penyelesaian utang ini agar Kereta Cepat Whoosh dapat memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian dan konektivitas antar wilayah.
Editor: Akbar soaks









Tinggalkan komentar