55 NEWS – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) secara tegas mengukuhkan komitmennya menjadikan bioenergi sebagai pilar fundamental dalam menjaga ketahanan energi nasional. Langkah ini krusial sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060, sebuah visi ambisius untuk masa depan energi bersih Indonesia.

Related Post
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa Indonesia diberkahi dengan potensi biomassa yang melimpah, khususnya dari limbah agro, yang diperkirakan mencapai 80 juta ton per tahun. Ironisnya, pemanfaatan domestik masih jauh dari optimal, dengan hanya sekitar 20 juta ton yang terserap, dan sebagian besar justru dialokasikan untuk kebutuhan ekspor serta industri.

"Pada tahun 2025, penyerapan biomassa oleh PLN untuk kebutuhan pembangkit listrik kami baru sekitar 2,35 juta ton. Bandingkan dengan ekspor biomassa yang sudah menyentuh angka 8,5 juta ton, dan sisanya diserap oleh sektor industri. Ini jelas menunjukkan bahwa potensi bioenergi nasional kita masih sangat besar dan belum teroptimalkan sepenuhnya untuk kepentingan dalam negeri," ungkap Hokkop di Jakarta, Jumat (19/6/2026), seperti dikutip dari 55tv.co.id.
Melihat celah tersebut, PLN EPI mematok target ambisius untuk meningkatkan penyerapan biomassa hingga 10 juta ton pada tahun 2030. Angka ini melonjak signifikan dari target sekitar 3,65 juta ton yang ditetapkan untuk tahun 2026. Pencapaian target ini diproyeksikan tidak hanya akan menciptakan nilai ekonomi hampir Rp4 triliun, tetapi juga berkontribusi pada penurunan emisi karbon hingga sekitar 11 juta ton karbon ekuivalen.
Selain fokus pada biomassa padat, PLN EPI juga bergerak cepat dalam pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) yang dihasilkan dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Indonesia, dengan hampir 3.000 pabrik kelapa sawit, menghasilkan sekitar 130 juta metrik ton POME setiap tahun, sebuah sumber daya yang masif dan belum termanfaatkan secara maksimal.
Menurut Hokkop, uji coba pemanfaatan CBG telah berhasil dilaksanakan di salah satu pembangkit milik PT Nusantara Power, menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. "Kami berharap, jika biomassa mampu menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi PLTU, maka CBG juga memiliki potensi besar untuk menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi pada PLTG, PLTMG, maupun PLTGU," imbuhnya.
Tak berhenti di situ, PLN EPI juga mulai merintis pengembangan biohidrogen sebagai bagian integral dari strategi jangka panjang mereka. Seiring dengan meningkatnya permintaan energi bersih secara global, biohidrogen dinilai memiliki prospek cerah untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun menjadi komoditas ekspor.
"Kami memandang biohidrogen sebagai salah satu peluang besar di masa depan, mengingat permintaan global yang terus meningkat. Potensinya sangat besar, berasal dari biomassa maupun limbah organik yang melimpah ruah di Indonesia," jelas Hokkop.
Meski prospek bioenergi sangat cerah, pengembangannya masih dihadapkan pada sejumlah tantangan krusial, terutama terkait kepastian harga dan penguatan ekosistem industri. Untuk mengatasi hal ini, PLN EPI mengusulkan pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional untuk bioenergi.
"Kami sangat berharap ke depan akan ada Indonesian Bioenergy Index atau IBI. Dengan adanya indeks ini, pasar akan menjadi lebih stabil, investor akan lebih percaya diri, dan industri bioenergi di Indonesia dapat berkembang lebih pesat," pungkas Hokkop.
Editor: Akbar soaks










Tinggalkan komentar